Jumat, 05 Desember 2008

The Real Cabe Rawit: MZ RE125





Bulan Maret lalu, saya sempat jalan-jalan ke ajang Mach 08 di kota Chemnitz, di negara bagian Sachsen. Kota kecil di bekas wilayah Jerman Timur ini tidak istimewa di mata turis, tetapi di mata penggemar balap roda dua merupakan kota yang penting. Di tepi kota inilah (di antara kota Chemnitz dan Zwickau) terletak sirkuit penyelenggara GP Jerman, sirkuit Sachsenring.

Pameran motor ini terhitung sederhana, tetapi cukup variatif. Keempat pabrikan raksasa Jepang dan beberapa pabrikan Eropa seperti KTM, Ducati, Moto Guzzi, dan Aprilia menghadirkan produk-produk barunya. Pengunjung juga disuguhi aksi free style yang dilakukan Buddy dengan CBR 600 R (ni orang kayanya tidak terkenal Bro...), jujur, yang bikin deg-degan bukan aksinya, tetapi raungan mesin dan decit ban CBR yang menggema di dalam hanggar itu. Beberapa penjual motor second, rumah tuning dan pernak-pernik juga turut meramaikan acara. Buat pengunjung yang menggemari motor klassik, ada belasan motor klassik yang bisa menghibur. Acara puncak ditutup dengan wawancara dan sesi tanda tangan dari Max Neukirchner dan Toni Mang (bagi Bro yang merasa Kawasaki mania, tentunya nama Toni alias Anton Mang bukan nama asing. Doi adalah pembalap motor paling sukses asal Jerman, karir puncaknya diraih dengan menjadi juara dunia di atas kawasaki 2 tak di GP dunia kelas 250 dan 350 cc).

Di antara deretan motor klassik, ada sejenis motor yang menggoda perhatian saya. Sebagai penggemar balap motor, tentunya saya cenderung mendekat ke mesin-mesin balap. Foto-foto dari kamera HP yang Bro lihat adalah salah satu motor imut yang saya anugerahi julukan ''the real cabe rawit''. Kalau ada yang mengatakan, Aprilia RS 125 ataupun Cagiva Mito sebagai motor cabe rawit, saya tidak terlalu setuju. Kapasitas mesin memang kecil, tenaga memang dahsyat, tetapi body dan kaki-kaki gambot membuat saya menyebutnya mesin cabe rawit dengan tampang paprika, karena kedua motor ini indah dipandang seperti paprika. Tidak demikian dengan MZ RE 125, mesin cabe rawit, tampangnya juga cabe rawit alias kurang menarik (maaf-red.) Itu pendapat saya dulu Bro, tetapi setelah sempat mengangkangi RX-King versi drag race, saya jadi kepincut juga dengan model motor cabe rawit, imut tetapi mematikan.

MZ RE 125 adalah motor produksi MZ, pabrikan yang eksis sejak tahun 1907 hingga saat ini. MZ adalah singkatan dari Motorenwerke Zschopau. Zschopau adalah nama kota di negara bagian Sachsen. Sebelum penyatuan kembali Jerman di tahun 1990, kota ini masuk ke wilayah DDR alias Deutsche Demokratische Republik alias Jerman Timur. Namanya memang demokratis, pada kenyataannya, pemerintahan Jerman Timur di bawah Uni Soviet termasuk rezim sosialis yang anti demokrasi, segala sesuatunya diatur. Ini adalah salah satu faktor, kenapa pabrikan MZ tidak terlalu berkembang. Singkat kata, untuk urusan dana, mereka tidak bisa mendapatkan dana semelimpah-ruah pabrikan Jepang.

MZ RE 125 adalah motor balap MZ tahun 60an yang menggempur GP dunia. MZ menurunkan tim balap mereka di kelas 125 dan 250 cc. Mesin MZ RE125 adalah hasil pengembangan Walter Kaaden yang sejak tahun 50 an bekerja di MZ dan menjadi bosnya tukang insinyur MZ. Dari otaknya yang brilian, ia banyak menghadirkan penemuan-penemuan baru yang membuat teknik mesin 2 tak melejit lebih cepat dari bayangannya. Kesuksesan motor-motor balap 2 tak Jepang pun sebenarnya bisa ditelusuri, ujung-ujungnya kita berjumpa dengan nama sang inovator, Walter Kaaden, sang begawan mesin 2 tak kala itu. Buah pemikirannyalah yang menjadi tolak ukur dan bahan dasar pabrikan-pabrikan mengembangkan motor 2 tak.

Tebak, berapa top speed si cabe rawit yang berkapasitas tepatnya 124 cc ini? Sekitar 180 Km / jam? Belum benar Bro..Mesin bertenaga 25 PS ini cukup untuk menembus 210 Km / jam. Masuk akal, sebab badan dan kaki-kaki yang singset dan ala kadarnya membuat bobot MZ RE125 hanya 91 Kg. Hal yang cukup mencengangkan adalah teknologi radiator yang sudah digunakan si cabe rawit. Bayangkan, sudah sejak tahun 60-an!! Radiator dinilai sebagai faktor yang sangat penting untuk motor balap yang umurnya sudah tidak muda lagi ini. Maklum, hasil peras otak Kaaden ini sanggup berkitir hingga 13000 rpm. Supaya motor tidak over heat, MZ pun sudah memasang indikator temperatur air untuk mengingatkan joki si cabe rawit. Jadi, buat mereka-mereka yang terlalu bangga dan merasa canggih dengan motor beradiator, maaf-maaf saja...si cabe rawit sudah menikmatinya dari tahun 60an.


Sumber:

Hugo Wilson: Motorräder, über 300 Klassiker. München 2007


1 komentar: