Jumat, 21 November 2008

Merindukan Masa Lalu

















Apa persamaan yang Bro tangkap dari foto-foto jepretan Hp saya? Isinya motor semua?? Itu sudah pasti...Mereknya Suzuki semua?? Tidak juga, kan ada satu Honda CBR 900 di sana. Memang kebetulan yang saya temukan di jalan di kota Jena bermerk Suzuki. Wajar saja, mengingat penjualan Suzuki bertengger di posisi ke-2 penjualan sepeda motor di Jerman, hanya beda tipis dengan motor tuan rumah, BMW, yang menjadi juara kandang. Posisi ini mungkin saja tahun depan berubah, mengingat Max Neukirchner yang saat ini menjadi pembalap pabrikan Suzuki di ajang WSBK.
Kembali ke pertanyaan awal: Apa persamaan pesan yang ditampilkan foto-foto ini? Oke, yang saya maksud dengan menampilkan foto-foto ini adalah memberikan gambaran tentang jumlah sepeda motor yang wara-wiri di jalanan negaranya Michael Ballack ini. Yup, hanya sedikit!! Kenapa bisa begitu?
1. Cuaca yang tidak begitu bersahabat dengan bikers. Selain dari rentang waktu pertengahan musim semi di sekitar bulan April hingga awal musim gugur di awal bulan September, cuaca sama sekali tidak mendukung untuk bersenang-senang dengan si roda dua. Jarang bikers yang mau naik motor jika suhunya sudah dibawah 15 derajat celcius. Faktor alam inilah yang membuat tidak banyak pembalap motor asal Jerman yang sanggup berbicara banyak di dunia balap motor internasional. Bandingkan dengan Italia dan Spanyol yang memiliki iklim lebih hangat!
2. Naik motor adalah pilihan dan gaya hidup, bukan lebih dikarenakan kebutuhan. Jadwal bis, tramp dan kereta sangat bisa diandalkan, bahkan ketepatannya hingga hitungan menit. Tidak seperti kisah saya yang menunggu di stasiun UI hingga satu jam lebih sebelum toa berbunyi: Para penumpang yang terhormat, kereta tertahan di Stasiun Manggarai. Ada penumpang yang tersengat listrik! OOuucchh....
3. Orang Jerman sudah lebih tinggi kesadaran untuk melestarikan lingkungannya. Jika memungkinkan, mereka memilih naik sepeda. Banyak lho yang tampangnya kaya Heidi Klum tapi naik sepeda...coba di Jakarta, pasti mintanya naik mobil BMW. Yang membuat saya salut sih ketika menyaksikan sendiri dosen-dosen saya yang Professor dan Doktor ke kampus naik sepeda (ga kalah melankolis deh dengan Umar Bakri). Suatu hal yang saya ancungi dengan semua jempol yang saya punya. Bayangkan, hal yang lumrah bagi seorang Professor Jerman yang mengajar di universitas memiliki gaji 6000 Euro per bulannya. Kesahajaan sebuah kesederhanaan...
Bagaimana keadaan di Jakarta saat ini? Motor menjadi kendaraan yang menyelamatkan hidup orang banyak, tidak hanya mengebulkan asap knalpot, tetapi juga membuat asap dapur banyak orang tetap mengebul. Dampak kenaikan bahan bakar minyak, kemacetan lalu lintas serta transportasi umum yang secara ekonomis, kenyamanan, keamanan dan waktu tidak memadai membuat orang beralih menjadi bikers. Bahkan tidak sedikit yang tadinya mencela-cela sepeda motor jadi keranjingan naik motor. Namun, apa akibat negativnya???
1. Kemacetan lalu lintas yang bertambah parah. Ditambah kelakuan bikers yang indisipliner mencemarkan nama bikers. Ini berujung pada pembagian 2 kelas sosial di masyarakat yang kita tahu tidak bisa dibenarkan, tetapi kita pun tidak berdaya memeranginya: Mobil= orang kaya, mengerti aturan vs. Motor = orang kecil, tidak tahu aturan lalu lintas dan egois.
2. Perlakuan pada motor yang tidak motorsiawi. Ayo, siapa sih yang motornya belom pernah baret gara-gara parkir di parkiran umum yang bikin motor-motor kita jadi kaya ikan bandeng presto gara-gara digeser-geser dan digencet sana-sini??
3. Bermunculan klub-klub motor hanya karena sejenis. Tunggu dulu, ini bukannya negativ, tentunya dan mudah-mudahan lebih banyak positivnya. Tapi kita harus introspeksi juga, berapa kali sudah terjadi kasus klub motor menindas pengendara lainnya? Ini menjadi PR yang tidak mudah buat Bro-bro yang aktif di perkumpulan motor.

4. Komponen palsu! Bengkel kejar setoran! Keduanya kerap menghantui Bikers, terutama yang tidak terlalu mahir dalam soal bongkar-pasang motor dan segala piranti pendukungnya.
5. Banjir produk motor! Ini negatif?? tidak juga sih, dari sisi pilihan dan harga, tentunya sebagai konsumen kita diuntungkan. Namun, jika kita lihat dari sisi lain, bukankah harga jual kembali jadi lebih parah jatuhnya dibandingkan masa sebelum booming motor di Indonesia?? Tampaknya pendapat yang mengatakan, bahwa motor sarana investasi yang baik, perlu ditinjau ulang.
6. Apakah kita siap mengalami kondisi yang dialami bikers Vietnam? Dalam sebuah siaran televisi, Vietnam di satu sisi sangat memberikan kebebasan bagi bikers: ga perlu helm ataupun protector lainnya!! Di sisi lain, di sana naik motor sudah seperti Jamaah Haji di Terowongan Minah, pada merayap bo... Ya tidak separah itu sih, tapi apa enaknya naik motor kalau semua jalanan seperti itu??? Apakah perbandingan jumlah motor dengan jumlah penduduk bisa tetap terjaga proporsinya? Di siaran TV itu dikatakan, jumlah penduduk Vietnam 80 juta jiwa, jumlah sepeda motornya 40 juta saja!!!
7. Jika kemacetan sudah tidak terkendali, jika aturan yang menerapkan kadar emisi gas buang benar-benar ditegakkan dengan standard yang tinggi, bahkan jika motor sampai dilarang!! wah mimpi buruk...
Karena itulah, saya merindukan masa dimana naik motor adalah pilihan, bukan keterpaksaan...

Kamis, 20 November 2008

Awas Kesetrum: Era Motor Listrik


Perkara bensin akan habis, semua orang sudah tahu. Perkara motor listrik akan menggantikan motor berbahan bakar bensin itu nanti dulu... Pandangan semacam ini sepertinya masih berkuasa di benak kita. Kalau mendengar nama motor listrik, kita teringat pada motor mainan bocah atau motor konsep yang sepertinya terlalu canggih dan masih terlalu lama untuk diproduksi masal. Motor Listrik sebenarnya sudah ada di Indonesia, atau pastinya di Jakarta. Sekitar 1,5 tahun lalu, saya pernah melihat brosur dan barangnya. Bentuknya kira-kira bentuknya sekelas dengan Yamaha Mio dan skubek lainnya, hanya saja lebih kecil dan sederhana. Kecepatan maksimumnya juga hanya 40 Km / jam. Harga yang ditawarkan juga tidak bisa dibilang murah, sekitar 5 juta rupiah. Untuk masyarakat Indonesia, sepertinya tema motor listrik belum menarik dan tidak terlalu menjual. Jika meninjau harga dan performa yang ditawarkan, sepertinya kita masih memandang motor listrik hanya ''mainan'', bukan alat transportasi sesungguhnya.

Lain halnya jika yang mengeluarkan produk motor bertenaga listrik pabrikan yang sudah punya nama besar di industri roda dua. KTM baru-baru ini memperkenalkan motor listrik prototipenya, namanya sendiri masih gurem, entah Elektro Enduro atau Elektro Crosser. Di tingkat internasional, sebenarnya sudah ada produsen motor listrik yang lebih mapan, misalnya Vectrix dari negerinya Obama (USA), Ekrad made in Germany dan Quantya yang diproduksi di Swiss. Omong-omong, BMW juga digosipkan ingin memproduksi motor listrik juga lho...

Dengan keseriusan KTM memproduksi motor listrik, bisa jadi pertempuran di kelas baru ini akan terbuka dan menguntungkan konsumen, tentunya banyak pilihan dan harga yang ditawarkan bisa lebih kompetitif. Tampaknya KTM sudah berani melangkah ke segmen ini, mereka melihat trend di dunia roda dua. Keputusan ini juga didasari pertimbangan matang, bukan sekedar berdasarkan terawang gaib Ki Gede Anue. Perkembangan teknologi aki yang sanggup memuat lebih banyak tenaga dan lebih tahan lama serta lebih cepat waktu pengisian ulangnya memungkinkan motor listrik menjadi andalan transportasi sehari-hari.

Foto yang Bro lihat diatas, yang berwarna oranye tentunya, adalah si motor listrik produksi KTM. Kelihatannya kencang juga kan? Apa iya bisa sekencang itu? Masa sih tenaga aki bisa sekencang itu? aki kan sudah tua...ngelantur!!! Ingat, jangan remehkan tenaga aki alias baterai. Tau dong kencengnya mainan kita kira-kira 15 tahun lalu: TAMIYA!! Kenceng kan???

KTM mengklaim produknya ini Full Emotion with Zero Emission. Tenaga motor listrik ini tidak bisa dianggap remeh, karena sudah setara dengan motor enduro kelas ringan. KTM juga memperlengkapi motor ini dengan suspensi berkualitas tinggi, jadi wajar saja kalau mereka berani sesumbar kalau motor ini ready to race! Wajar saja, sebab motor ini hanya berbobot kurang dari 90 Kg, masih lebih ringan dibandingkan motor trail KTM 125 cc. Kenapa bisa seringan itu? Tentunya karena motor ini tidak memerlukan motor bermesin bensin dan segala peranti pendukungnya seperti knalpot, air box, karburator, tanki bahan bakar, dan kopling. Belum lagi perawatan yang lebih mudah: tidak perlu bensin dan oli, artinya tidak perlu repot-repot kuras bak oli, tanki bensin ataupun repot membersihkan karburator dan saringan udara.

Di pasar motor listrik, KTM harus siap bersaing dengan produk yang sudah lebih dahulu terjun di segmen ini, misalnya Ekrad dan Quantya (foto sebelah bawah) yang juga berbasis motor pencinta jalan rusak bin ancur. Menurut terawang gaib Ki Gede Anue, spesifikasi KTM tidak akan berbeda jauh dari yang dimiliki Ekrad. Ekrad yang dipasarkan di Jerman dengan harga sekitar 10.000 Euro (masih dianggap terlalu mahal, tentunya karena nyaris tidak ada saingan) berbobot 96 Kg dan bertenaga 21 KW alias 28,5 PS (DK) dan bertorsi 45 Nm, tentunya cukup untuk mengalahkan Kawasaki Ninja 250 standard dalam ajang balap 1/4 mil. Ingat, tenaga puncak memang lebih kecil, tapi bobot yang lebih ringan serta final gear yang ringan (motor trail githu lho) boleh dijadikan jaminan untuk akselerasi yang bisa bikin bikers bermotor mesin bensin juga ingin membeli si motor listrik ini. Untuk mengisi ulang akinya juga tidak perlu seharian, cukup 4 jam. Produsen Ekrad mengklaim, biaya untuk pengisian listrik hanya 60 cent. Artinya 60 Cent cukup untuk bersenang-senang dengan Ekrad selama 2 jam. Bandingkan sendiri, berapa biaya untuk membeli bensin untuk 2 jam perjalanan, kalau harga bensin saat ini (walaupun lagi turun) sekitar 1,2 Euro seliternya. Menggiurkan juga kan secara ekonomis.
Untuk Quantya, saya tidak mempunyai data akurat, data di internet menampilkan penilaian yang berbeda-beda. Sebagai gambaran saja, harga motor listrik ini sekitar 8800 Euro, berbobot 80 Kg, bertenaga 18 PS yang menghabiskan aki dalam 30 menit dan untuk isi ulang cukup 20 cent saja!! Ingat, ini informasi simpang siur!
Kira-kira faktor berikut ini mencegah bikers Indonesia membeli motor listrik:

1. Belum ada produsen ternama yang memproduksi.
2. Kalau beli, jangan harap mudah dijual kembali dengan harga yang tidak bikin sakit hati.
3. Performa, jarak tempuh, perawatan rutin dan onderdil yang belum familiar.
4. Harga masih relatif mahal.
5. Nyaris tidak bersuara, ga sangar!
6. Kalau rusak, kemana aku harus mengadu??
7. Anggapan: bukan motor, tapi mainan.
8. Takut tegangan PLN turun naik dan bikin rusak.
9. Hanya jawaban 1, 2 dan 3 yang benar.
10.Takut kesetrum.
11.Jawaban 1-11 salah semua.

Sumber:
Motorrad Magazin Nr. 12/2008
Motorradnews, Nr. 12/2008
Terawang Gaib by Ki Gede Anue


Senin, 17 November 2008

Bridgestone Hurricane, bukan Battlax!


Nama Bridgestone tentunya tidak asing di telinga Bro semua, pastinya yang ada di kepala kita adalah ban. Hari gini memang Bridgestone dikenal sebagai produsen ban, bahkan di Motogp baru-baru ini bisa dibilang sukses besar mempecundangi dan melengserkan kiprah Michelin di kelas para raja.
Sebenarnya Bridgestone sudah eksis sejak tahun 1946 sebagai produsen sepeda (ga pake motor). Pada tahun 1949, Bridgestone mulai menambahkan motor pada sepeda hasil produksinya, tentunya motor berkapasitas mini. Barulah pada tahun 1958 Bridgestone memproduksi sepeda motor..baru tahu kan?? Bridgestone memproduksi sepeda motor dari rentang waktu 1958 hingga 1971, makanya sekarang hanya segelintir orang yang tahu, kalau Bridgestone mantan biangnya motor. Padahal di era tahun 60-an, motor-motor Bridgestone mendominasi arena-arena balap motor. Bridgestone pada awalnya nama toko yang menjual onderdil mobil. Bosnya bernama Soichiro Ishibashi. Nama Bridgestone adalah terjemahan nama si bos ke dalam bahasa Inggris: Ishi-Stone dan Bashi-Bridge.
Yang Bro lihat di foto adalah salah satu karya Bridgstone yang dilabeli: Bridgestone Hurricane. Hurricane yang menyanjung konsep funbike diluncurkan ke pasar pada tahun 1968. Tak lama sejak diluncurkan, Hurricane mendapat pengakuan dari bikers karena performanya, baik di lintasan aspal, maupun off road. Motor 2 silinder berkapasitas 177 cc ini bertenaga 20 PS pada 8000 rpm, tentunya cukup untuk mengantarkan motor berbobot 123 Kg ini menembus 126 Km/jam.
Kalau mobil-mobil offroad multiguna modern alias SUV membanggakan fasilitas perpindahan modus transmisi dari 2WD ke 4WD hanya dengan menggeser tuas dari dalam kabin, pengendara Hurricane sudah melakukannya puluhan tahun lalu. Cukup membungkuk dan menggerakkan tuas yang terletak di sisi kiri mesin motor, maka si pengendara bisa memilih 2 modus:
Modus normal yang memiliki 5 tingkat percepatan: netral-1-2-3-4-5-mentok.
dan modus rotasi yang hanya memiliki 4 tingkat percepatan: netral-1-2-3-4-netral (bukan salah cetak).
kebayang dong kalo lagi trek-trekan tapi lupa mengganti ke modus normal, pas mau pindah ke gigi 5, eh motor malah netral, dijamin ngeloyor ga karuan deh, lebih serem lagi kalo mau nyalip container atau truk gandeng, wah saya anjurkan baca dua kalimat syahadat. Oleh karena itu, modus rotasi ini kurang disukai.
Produk Bridgestone lainnya yang cukup dikenal adalah 350 GTR, motor yang memiliki akselerasi spektakuler di zaman itu. Spektakuler sih spektakuler, tapi lihat harganya dong: 900 US dollar. Murah?? Ya hari gini 900 USD murah untuk ukuran sepeda motor, tetapi kalau kita lihat harga produksi Yamaha dan Honda di kelas ini, pastinya Bro berubah pikiran. Sepeda motor Honda dan Yamaha di kelas ini, paling mahal hanya bermain di kisaran 200 USD!!! Kebayang dong mahalnya..Ducati dan MV Agusta saja hanya berani 100% lebih mahal untuk meluncurkan produk mereka di kelas yang sama dengan pabrikan Jepang, maksud saya dari kelas yang sama di performa, bukan fitur.
Pada tahun 1971, Bridgestone memutuskan hengkang dari dunia produsen sepeda motor. Bridgestone menutup cabang mereka di bidang ini. Mungkin saja Ishibashi mendapat nasehat spiritual yang menganjurkan demikian. Paling tidak, keputusan ini tidak bisa disalahkan jika melihat prestasi Bridgestone sekarang. Masalahnya, siapakah paranormal yang memberikan terawang gaib hingga Ishibashi mengambil keputusan itu??? The truth is out there!!!
Sumber:
Hugo Wilson: Motorräder, über 300 Klassiker. München 2007.
Mirco de Cet: Illustrierte Klassische Motorräder, Enzyklopädie.

Kamis, 13 November 2008

Igor Akrapovic: Biangnya Knalpot Racing


Jangan mengklaim suka dunia Balap kalau tidak pernah mendengar nama Akrapovic. Yup, merek salah satu knalpot racing paling sukses di dunia balap internasional.
Sekitar 18 tahun lalu, Igor Akrapovic memulai kariernya sebagai tukang insinyur knalpot. Ia merancang dan membuat knalpot di bengkel kecil di Slovenia. Hari ini, bengkel kecil itu telah berkembang menjadi sebuah perusahaan yang mendunia dan mempunyai 400 orang pegawai. Akrapovic memproduksi hampir semua bagian yang diperlukan untuk menciptomangunkusumokan knalpot-knalpot racing yang bisa ''bersuara'' di ajang balap moge dunia, bahkan hingga baut-baut titaniumnya. Menurut Akrapovic, titanium sangat digemari di dunia balap, sebab lebih tahan banting dibandingkan karbon dan berbobot hanya sedikit lebih berat dibandingkan karbon.
Kalau kita berkunjung ke pabriknya di Ivancna Gorica, niscaya kita akan kesulitan menemukannya. Pabrik Akrapovic terlihat sederhana, tanpa umbul-umbul ataupun plang reklame perusahaan berukuran besar. Pabrik berukuran 15000 meter persegi ini hanya memiliki logo kecil yang menandai, bahwa di situlah knalpot-knalpot andalan juara-juara balap dunia diciptakan. Tentunya kesederhanaan ini tidak mencerminkan kesuksesan Akrapovic yang tahun lalu memasarkan 80000 produk dan beromset 31 juta Euro sajalah!! Makro Adamic, sang direktor pabrik berkomentar: kami tidak butuh buang-buang uang untuk membuat iklan, cukup dengan kualitas dan kesuksesan di dunia balap, itu iklan kami!!
Filosofi ini sudah dimulai ketika Igor Akrapovic menciptakan knalpot pertamanya pada tahun 1990. Karena peralatan yang kurang memadai, ia bekerjasama dengan rumah tuning di Bologna yang memproduksi produk after market Ducati. Akrapovic ditugaskan merancang dan memproduksi silincer Knalpot Ducati 888 (angka hokky bgt nih!!).
Pabrikan yang menurunkan pasukannya di WSBK dan pertama kali memesan knalpot Akrapovic adalah Kawasaki pada tahun 1996. Sejak itu, banyak kemenangan di kelas Superbike dan Supersport yang turut menaikkan image Akrapovic hingga akhirnya di tahun 1999 keempat tim pabrikan Jepang mempercayakan Akrapovic menciptakan knalpot untuk jagoannya di WSBK, sebuah cerita sukses yang mendunia. Bahkan pabrikan mobil Ford meminta Akrapovic mengganti nama produknya. Jadi, dulunya knalpot Akrapovic dilabeli: Skorpion. Ford ingin menghindari pertukaran nama dengan produk limousine mereka yang bernama Scorpio. Akrapovic menerima permintaan ini (entah disogok berapa atau bagaimana). Ia mengganti nama perusahaannya, dari Skorpion menjadi Akrapovic. Nama Akrapovic sendiri mengandung kata ''Akrap'' dari bahasa Turki yang berarti kalajengking. Oleh karena itu, binatang yang kecil tapi dahsyat ini menjadi logo Akrapovic. Hanya saja warnanya tidak hitam, tapi merah (mungkin kalajengking rebus).
Bro yang punya perkebunan pohon duit mau pesan rancangan sendiri ke Akrapovic?? Eiittss..tunggu dulu, perusahaan ini sudah tidak semudah itu menerima orderan, banyak orderan dari perusahaan seperti KTM dan BMW yang harus ia selesaikan. Bahkan Porsche pun membutuhkan jasa Akrapovic untuk mempersenjatai gacoan mereka: GT2. Untuk memenuhi birahi sembalap klien-kliennya, Akrapovic akhir tahun ini merencanakan hijrah ke kompleks pabrik yang lebih luas lagi: 19000 meter persegi saja. Pabrik Akrapovic saat ini dianggap tidak mampu lagi menampung permintaan pasar. pabrik yang diperlengkapi alat-alat modern untuk membentuk pipa-pipa titanium menjadi knalpot yang digilai joki-joki balap ini hanya mempekerjakan tukang las terbaik untuk menyatukan pipa-pipa titaniumnya. Untuk merancang knalpot racingnya, ia mempekerjakan insinyur-insinyur dari berbagai penjuru dunia. Sekali lagi, kualitas selalu dinomersatukan!
Slavko Trstenjak, mandor departemen pengembangan Akrapovic, menjelaskan, simulasi aliran udara gas buang melalui komputer hanya menjamin 95% saja untuk tenaga yang dihasilkan. 5% lagi harus didapatkan dengan uji coba. Untuk itu, knalpot-knalpot Akrapovic mengalami uka-uka alias uji kekuatan diatas dyno jet. Setelah itu, knalpot dikembangkan kembali dengan perbaikan di sana-sini untuk mengejar tenaga yang 5% ini. Sebuah pekerjaan yang mendetail dan menuntut ketekunan tingkat tinggi. Uji coba diatas dyno jet dilakukan para ahli yang memperhatikan tekanan ban, kelembapan udara, tendangan gas balik, dan emisi yang dihasilkan. Di sisi lain pabrik, para insinyur sibuk merancang desain-desain baru knalpot Akrapovic di lap top, kerja mereka benar-benar seperti seniman!
Kesimpulan: Ayo ngekor Akrapovic!! bukan bikin knalpotnya, tetapi filosofinya:
apapun yang Bro lakukan, jangan kebanyakan ngomong, tunjukkan Kualitas terdepan!!!
Sumber:
PS- Das Sport-Motorrad Magazine, Maret 2008.

Senin, 10 November 2008

BMW Lo Rider: Tunjukkan Ekspresimu!!

Cocok untuk Jalanan Indonesia!! Itu yang terlintas dalam pikiran saya saat pertama kali melihat BMW Lo Rider yang tidak punya hubungan darah sama sekali dengan Tim Lo. BMW memperkenalkan motor konsep yang minimalis ini pada pameran motor EICMA di Milan.
Lo Rider alias BMW R 1200 Scrambster adalah motor konsep yang memadukan kesan klassik dan modern. Bro bisa melihat perpaduan antara motor street fighter dan scrambler mewarnai penampilannya. Doi berbasis BMW HP2 Mega Moto, motor super moto BMW yang pastinya seru diajak jungkir balik di jalan-jalan Ibu Kota yang lengkap dengan jalan mulus dan mendadak LOBANG!!! Velg lebar jari-jari berdiameter 17 inci semakin membuat pengendara percaya diri melintasi jalan Ibu Kota yang sekali lagi ber-LOBANG, polisi tidur, polisi bangun dan sangat memprihatinkan polisi udaranya. Seharusnya motor yang suspensi depannya sudah dikorting jadi lebih pendek ini cocok untuk badan rata-rata orang Indonesia, judulnya saja Lo Rider, pastinya lebih Low dibandingkan BMW lainnya yang jujur saja terlalu besar untuk ukuran orang yang bertinggi badan dibawah 175 cm.
Pastinya sensasi mengendarai motor se-sexy Lo Rider begitu menggugah hasrat riding bikers. Mesin Boxer khas BMW memang gagah. Meskipun tenaganya tergolong lemah jika dibandingkan motor-motor besar lainnya, tetapi sudah terbukti tangguh daya tahannya. Ditunjang dengan suspensi kelas wahid, pastinya pengendara dimanjakan dengan kenyamanan khas motor-motor touring BMW.
Hal yang paling menarik dari konsep Lo Rider adalah ide BMW untuk memanjakan selera konsumennya. Lo Rider yang Bro lihat diatas hanyalah salah satu bentuk jadinya...bingung?? Begini ceritanya: Lo Rider adalah motor yang setengah jadi..tambah bingung?? Jadi BMW memberikan kebebasan kepada konsumen untuk berekspresi. Calon Pembeli dapat menentukan head lamp, jok, knalpot, foot step dan berbagai komponen lainnya untuk dirakitkan menjadi Lo Ridernya masing-masing. Custom Your Bike!! Mungkin cara ini bisa ditiru AHM, jadinya kan Bikers punya sedikit kesempatan untuk mendesain motornya masing-masing. Pastinya sih, kemungkinan berekspresi itu, apalagi yang ditawarkan BMW: MAHALLLLLLL!!!!!!
Sumber:

Lampu Rem Ducati 1098/848





Dijual sajalah: Lampu 2nd ex Ducati 1098, sepertinya bisa juga untuk ducati 848, sepertinya...
kondisi mulus, soket bagus, lampu led mestinya masih menyala, kecuali Yang Maha Kuasa berkehendak lain...oleh karena itu, saya tidak memberikan jaminan. Barang yang sudah dibeli tidak bisa dikembalikan ya...
Dibuka di harga 448 RR (ribu rupiah), selayaknya di pasar kaget, boleh di nego.
barang ada di Jakarta Selatan, serah terima langsung saja biar enak.
Ayo, yang mau modif2....atau mau punya ducati, mungkin beli lampu remnya dulu buat ,,mancing'' hihihi....
hubungi: 08129753351 (Febi)





Jumat, 07 November 2008

Böhmerland: Motor Gede, Asli Gede!!!

It's a tractor...it's a limo....no, its Böhmerland. Kalo ada angket yang harus dijawab bikers dunia yang mengerti motor klassik, pastinya nama Böhmerland jadi salah satu motor yang dinominasikan sebagai motor teraneh yang pernah diproduksi.

Böhmerland adalah motor produksi Cekoslowakia yang kini telah berpisah menjadi Republik Ceko dan Slowakia. Untuk pasar Cekoslowakia, motor rancangan Albin Liebisch ini dikenal dengan nama Cechie. Sepintas, motor yang diproduksi dari tahun 1925-1939 ini lebih mirip jembatan daripada sepeda motor. Atau mungkin mengingatkan kita pada jungkat-jungkit di TK karena warna standardnya yang merah-kuning. Motor ini ada yang diproduksi untuk 2 orang, dan ada yang untuk 3 orang, wow, kalo yang versi 3 orang bisa-bisa kena aturan three in one nih. Tidak puas dengan badan yang bongsor, bahkan ada versi khusus, untuk 4 orang dengan panjang 3,2 meter!!! Well, kayanya yang diorder untuk urusan ini Mak Errot deh..Artinya, Böhmerland cukup untuk memenuhi kebutuhan Bro yang ekstra leboy alias sanggup ngegebet 3 cewe sekaligus untuk satu kali kencan keliling kota.

Motor bermesin OHV 1 silinder 4 tak ini berkapasitas 598 cc, bahkan ada sumber lain yang bilang 603 cc (mungkin yang diukur Böhmerland dari tahun atau versi yang berbeda). Böhmerland tidak cocok buat Bro yang doyan ngebut, meskipun mesinnya bandel dan berkapasitas besar, tenaganya hanya 16 PS pada 3000 rpm. Ditambah dengan beratnya yang sekelas Harley Davidson: 227 Kg saja, itupun rodanya sudah dibuat dari alumunium cor yang ringan. Faktor-faktor ini membuat Böhmerland hanya mau berlari hingga 95 Km/jam saja.

Supaya bisa berkeliling Ibu Kota sampai Binaria, Böhmerland memiliki 2 tanki yang terletak disamping kanan dan kiri roda belakang. Bagaimana soal kenyamanan? Böhmerland memiliki suspensi depan yang bekerja terbalik, artinya bekerja menarik ketika pegasnya menegang, tidak seperti suspensi umumnya yang bekerja jika ditekan. Untuk suspensi belakang, aliran yang dianut adalah aliran sangat super minimalis, alias tuna pegas, alias rigit, alias tepos ash lover. Konstruksi mesin yang unik juga jadi jaminan, kalo Bro yang doyan mesin adem ayem dan bersuara halus dijamin menolak mentah-mentah naik Böhmerland: klepnya nonjol keluar!! Ga kalah berisiknya deh sama gambang kromong!!



Sumber:
-Hugo Wilson: Motorräder, Über 300 Klassiker. München 2007.
-Micro de Cet: Illustrierte Klassische Motorräder, Enzyklopädie.
-www.1990greif.de