Rabu, 30 September 2009

Cara Memperbaiki Top Speed (1)

Sebelumnya, bagi Bro yang komentar di artikel yang sudah agak lama, maaf kalau mungkin ada yang tidak terbalas, sebab saya harus periksa satu-persatu artikel untuk mengetahui, apakah ada komentar baru. Terlebih lagi, termasuk artikel ini, maka sudah ada 200 artikel yang sudah kita lalui bersama (banyak juga ya... ga nyangka saya jadi doyan nulis hehe...).
Kebetulan hari ini saya mendapati komentar dari Bro Fortynine di artikel "Spidometer, Kenapa Mayoritas Sesat". Begini Komentarnya:

Kebetulan Bro, ane selaku pengguna Tiger Revo, pernah mencoba melaju hingga kecepatan hingga 140 kmj (berdasarkan speedometer) pada trek lurus antara Tanjung - Muara Uya(Kalsel).Persis di belakang adalah Bajaj Pulsar yang kata ridernya, speedonya waktu ngejar saya hanya menunjukkan bilangan 110 - 120 kpj.Plus, semenjak ban belakang Tiger Revo dipasangi Bridgestone Battlax ukuran 120/80 - 18, nyari 100 kpj aja susahnya minta ampun, waktu di coba di trek lurus yang sama, cuma tembus 120 kpj. Padahal waktu melesat 140 kpj ane boncengan dan bawa barang. Sementara waktu pakai Battlax malah sendiri.....ada penjelasan teknis Bro?
Memang rangkaian artikel ini ingin mengulas cara-cara memperbaiki top speed, tetapi kita mulai dulu dari membahas pertanyaan Bro Fortynine. Kali ini bukan membahas masalah akurasi spidometer ya, tetapi apa faktor yang bisa membuat top speed naik turun.
1. Dari bannya: beda ban, pasti beda karakter. Meskipun sekilas profilnya mirip ataupun bahannya mirip, masih ada faktor-faktor lain yang akan mempengaruhi top speed. Sebut saja tekanan udara. Andaikan lingkarnya sama-sama 18/80, apakah otomatis sama? Okelah satuannya di kedua merk ban berbeda itu presisi dan sama plek. Nah, apakah ketika diisi tekanan udara dan beban total yang diterima ban belakang saat top speed (anggap saja) sekitar 110 Kg diameternya masih sama? Ingat, dinding ban karakternya berbeda-beda, misalkan di MotoGP, Michelin dindingnya tidak sekeras Bridgestone. Dalam kasus Bro Fortynine, ada kontradiksi kan.. masa dengan beban lebih ringan dan lingkar (mungkin) sama, trek yang sama, tetapi top speednya turun? Bisa jadi karena Battlax lebih menggigit, terlebih lagi tapaknya lebih lebar sehingga daya gesek dengan aspal menghambat top speed.
2. Keadaan motor secara keseluruhan. Meskipun faktor trek, ban dan lingkungan sama, apakah keadaan mesin masih sama? Kalau misalnya ditest beberapa bulan kemudian dan dipakai harian, kemungkinan besar tidak! Walaupun olinya sama, bahkan diganti yang lebih berkualitas, ataupun bensin diisi pertamax, belum tentu top speednya lebih baik. Bisa jadi mesin motor menderita keausan. Kalau dari pengalaman saya, salah setting klep saja ataupun ada kebocoran diklep sudah bisa membuat power motor turun drastis! Teman saya yang punya FXR pun sempat menceritakan, top speed FXR standard-nya hanya 140 Km/h, hanya sekali saja meraih 150 Km/h, saat relatif masih baru. Setelah itu, dia selalu mencoba meraih top speed itu, tetapi gagal maning! Nah, mungkin saja kondisi Tiger Revo Bro Fortynine tidak lagi se-fit saat top speed 140 Km/h diraih (kenceng betul Bro... Tiger ane ga pernah nembus segitu lho biarpun buat ngdrag -kayanya- masih lebih oke dari Ninja 150R, panjang banget kayanya tuh jalan ya...).
3. Aerodinamika: Sayang tidak dijelaskan, apakah secara bodi ada penambahan. Kalau misalkan Bro Fortynine menambah variasi semacam deltabox yang berkuping atau cover mesin, dari pengalaman saya, kedua variasi ini dapat menurunkan top speed hingga sekitar 5 Km/jam. Masih sehubungan dengan aerodinamika, sayang tidak dijelaskan, bagaimana kondisi anginnya. Kalau sampai ada perbedaan jauh, tidak heran kalau top speednya berkurang drastis. Di MotoGP, pembalap Ducati adalah para pembalap yang paling sering mengeluh kalau angin berhembus kencang, maklum, fairingnya punya permukaan paling luas.
4. Boncenger: Boncenger yang suka ngomporin bisa menaikkan tenaga motor hingga 20%! Sayang hal ini belum diteliti secara ilmiah. Belum lagi ada tipikal boncenger yang punya ilmu meringankan tubuh dan membuat tameng udara, sehingga aerodinamika motor dapat diperbaiki tanpa disadari si rider. Rider dan boncenger yang harus "bongkar muatan" when nature calls pun dapat menaikkan top speed motor secara signifikan. Sebaiknya kita hentikan disini dulu sebelum kita (lagi-lagi) semakin jauh tersesat......
Foto: HP-Klassikku

Senin, 28 September 2009

Kalex AV1: Handmade Made in Germany





Buat Bro sekalian yang punya perkebunan duit, mau tampil dengan motor kencang, spek balap mulai dari mesin, fairing, rangka, hingga suspensi dan menjunjung tinggi kata "eksklusif", silahkan gebet motor yang satu ini... (Kalau saya sih kagak dah...).
Motor bergaya MotoGP ini memang dijamin eksklusif Bro, handmade gitu lho... Motor produksi Kalex ini saya ambil gambarnya dari ajang MotoGP Sachsenring lalu. Motor yang dinamai Kalex AV1 ini punya performa yang cukup lumayan lah. Mesin V-twin 60° 990 cc produksi Kalex di tune up lagi oleh partner mereka, Amann Motorradtechnik hingga berkapasitas 1100 cc. Caranya, piston diganti dari diameter 97 mm menjadi 102 mm. Sektor injeksi pun juga dirancang sesempurna mungkin, hingga mesin ini bisa menghasilkan tenaga 163 PS @ 9500 rpm dengan torsi maksimum hingga 126 PS @ 7500 rpm. Memang masih sekelas dengan superbike Ducati sih, tetapi memang bukan masalah power yang diutamakan sang produsen yang juga terima order memodifikasi motor untuk individu ini. Mesin dengan kopling kering ini dirancang memiliki titik bobot yang mendukung handling yang sempurna. Rangka, fairing hingga suspensi dibuat dengan teknologi sekelas produsen pesawat terbang dan dengan perhitungan yang bikin saya bingung (makanya tidak saya jelaskan lebih jauh hehehe... silahkan lihat sendiri linknya).
Intinya, motor yang berbobot kering hanya 155 Kg ini benar-benar akan dikirimkan ke pemiliknya sesuai dengan spek yang dikehendaki, misalnya warna, riding position yang disesuaikan dengan si pemesan, ukuran velg Marchesini karbon pun juga disediakan yang ring 17 atau 16,5 inci dan tentu saja bannya. Peranti elektroniknya pun sudah cukup advance untuk mendukung si pemilik menjadi yang tercepat di sirkuit. Motor yang diproduksi produsen yang sedang membangun motor untuk ikutan Moto-2 ini dijamin memiliki akselerasi dan handling mencengangkan. Harganya pun lumayan mencengangkan, sekitar 4500 Euro lebih mahal dibandingkan Ducati Desmosedici yang dilego di sini 61500 Euro! Kapan yah di Indonesia yang mulai kebanyakan modifikator bisa begini... maksudnya mulai bikin motor sendiri gitu, syukur-syukur 250 cc berfairing dan asli bisa buat balap... (harga harus harga mahasiswa pastinya hihihi...).

Foto: HP-Klassikku

Seputar Pemilu Jerman 2009








.

.
Buat Bro yang mungkin ada sedikit ketertarikan pada bidang politik, saya mau cerita-cerita sedikit nih... Kemarin, akhirnya Jerman melakukan Pemilu 4 tahunannya dengan lancar. Partai-partai besar, yakni CDU (Partainya Angela Merkel) kehilangan sekitar 1,5% suara dan SPD (partainya Steinmeier) kehilangan sekitar 11,5% suara! Ya memang ini bagi SPD merupakan hasil terburuknya sejak PD II! Jumlah pemilih pun dikatakan persentasinya terendah, hanya sekitar 71%! Tampak di Jerman sendiri pun banyak yang mulai apatis terhadap Pemilu, mungkin karena kecewa dengan partai-partai yang lupa janjinya saat berkuasa. Sebaliknya, partai-partai kecil pun seperti FDP, Die Grünen dan die Linke mulai bangkit. Bahkan untuk FDP, pemilu kemarin memberikan hasil terbaik sepanjang sejarah mereka. Dengan hasil FDP yang sangat baik, mereka bisa berkoalisi dengan CDU menjadi partai yang memerintah Jerman untuk 4 tahun kedepan. Posisi Kanselir tetap ditempati Angela Merkel, dan Guido Westerwelle (ketua FDP) pun akan menempati posisi Menlu (sesuai kebiasaan, posisi Menlu dianggap posisi terpenting setelah Kanselir).

Kenapa koalisi hitam (CDU)-Kuning (FDP) ini bisa menang dan SPD bisa kalah telak? Banyak sebabnya Bro... Mulai dari SPDnya yang morat-marit terkena skandal, sampai program politik mereka yang kurang "menjilat" dan terlalu realistis. SPD hancur, karena baru-baru ini mentri kesehatan asal partai mereka terbongkar kelakuannya yang membawa mobil dinas untuk liburan di Spanyol. Walaupun di Spanyol si mentri wanita ini sempat mengunjungi walikota setempat, kunjungan itu tidak dianggap perlu dan berlebihan jika harus membawa si S-Class hingga ke Spanyol. Kok bisa ketahuan??? S-Classnya dicuri Bro.. supirnya dibius... nah terbongkar deh ke media... Mobilnya sendiri tak lama kemudian ditemukan ditinggalkan begitu saja tanpa kerusakan apapun! (kayanya politis banget ya...). Tidak hanya itu, ada petinggi SPD lainnya yang tersangkut kasus pornografi anak! Yang bersangkutan mengatakan, ratusan file/ mungkin film porno anak di bawah umur itu dikumpulkannya dalam rangka studi untuk memerangi pornografi anak. Namun, kalau sudah tertuduh seperti itu, susah itu..... (politis lagi nih kayanya...).

Merkel pun kembali berkuasa, disamping karena dukungan FDP, karena kepandaiannya meraih popularitas di dalam dan luar negri. Meskipun partainya konservatif, dia bertindak seperti seakan-akan dia berasal dari SPD yang sosial-demokrat, terlihat dari cara dia menangani kasus Opel yang merupakan anak perusahaan General Motors yang bangkrut. Singkatnya: Negara harus campur tangan untuk kepentingan para pekerja Opel! Padahal ini keputusan SPD lho yang tahun lalu bertindak sebagai partai yang berkuasa barengan CDU.

Di sektor pajak pun, CDU dan FDP menjanjikan penurunan pajak untuk dapat menggairahkan kembali perekonomian Jerman, sedangkan partai lainnya tidak berani berjanji muluk... Duit darimana lagi??? Para ekonom pun tidak melihat jalan keluar dengan menurunkan pajak. Kalau CDU-FDP ngotot, artinya utang luar negri akan semakin membengkak! Atau, ada sektor lain yang akan jadi korban? Ya sama lah, namanya menjelang pemilu, pasti janji-janji manis diobral! Kita lihat saja nanti implementasinya... Banyak yang bilang, krisis sebenarnya di Jerman baru akan melanda selepas Pemilu ini hiiiiiiii....


Beli Suara

Di Jerman juga sama kaya di Indonesia, dilarang membeli suara, walaupun pada praktiknya beda... Di sebuah siaran televisi, ada lembaga yang meneliti, seberapa rentan sih keputusan seseorang bisa dipengaruhi uang. Jadi mereka mengadakan pemilu beberapa hari sebelum pemilu sesungguhnya diselenggarakan. Mereka memperkenalkan diri pada awalnya kepada orang-orang yang lewat di dekat stand, bahwa yang mereka adakan resmi dan untuk mempermudah mereka yang tidak punya waktu di hari Minggu kemarin. Test pun dilakukan ada yang dengan kamera tersembunyi, dan ada yang terang-terangan menunjukkan kamera.
Mereka pun menawarkan sejumlah uang, supaya si pemilih mau mengubah pendirian mereka, yang tadinya milh CDU disuruh ke partai lawan, misalnya SPD. Memang banyak yang menolak pada awalnya, tetapi begitu uang yang ditawarkan menyentuh 50 Euro, lebih dari 50% pemilih bersedia menjual suara mereka. Bahkan pemilih partai minoritas yang ekstrem seperti NPD (neonazi) ataupun DKP (komunis) pun rela melepas suaranya dan memberikannya ke partai lawan! Haha.. lucu juga, tidak heran kalau di Indonesia perihal membeli suara bukanlah hal yang sulit..

Jumat, 25 September 2009

The King: Kawasaki Z1

Kalau duluuuu kita pernah membahas si CB 750 yang digelari "the first Superbike", sekarang kita kenalan dengan "the King", yakni si penjegal dominasi CB 750.

Kawasaki Z1 mendapat julukan King, karena doi memang selepas peluncurannya pada tahun 1973 menjadi raja di jalanan tahun 70-an. Serupa dengan rival beratnya si CB 750, Z1 berbekal mesin 4 tak 4 silinder berpendingin udara. Bedanya, kapasitas mesin lebih besar, yakni 903 cc dan sudah menganut DOHC (Hayo.. yang bilang motor DOHC modern dan canggih... sudah dari tahun 70-an lho....). Mesin bertenaga maksimum 82 PS @ 8500 rpm membuat akselerasi Z1 sanggup meninggalkan jagoan Honda hingga 1 detik di ajang balap 1/4 mil.

Sebenarnya Z1 sudah dikembangkan jauh hari sebelumnya. Hanya saja, ketika Honda meluncurkan CB 750 pada tahun 1969, para insinyur Kawasaki tercengang dibuatnya. Para tukang insinyur ini langsung terhentak dan tersadar, bahwa proyek yang mereka kembangkan tidak akan menang melawan si CB 750. Kawasaki pun menghentikan proyek motor 750 cc 4 silindernya yang dikenal dengan nama proyek "the New York Steak". Para tukang insinyur ini peras otak untuk dapat menundukkan si CB 750. Singkatnya, mesin 750 cc mereka bore up menjadi 903 cc! Padahal sudah DOHC tuh, masih belum pede rupanya lawan mesin Honda dengan kapasitas sama yang saat itu masih menggunakan kem tunggal.

Langkah Kawasaki ini jelas saja membuat mesin motor mereka jauh lebih kuat, sebab bukan hanya kapasitasnya yang lebih besar, tetapi juga teknologinya yang lebih maju. Singkatnya, 4 tahun setelah CB 750 diluncurkan, Kawasaki pun memperkenalkan Z1 yang memang siap mengasapi CB 750. Tenaga mesin yang lebih besar sekitar 15 PS plus torsi yang melimpah ruah sejak putaran rendah, membuat motor yang untuk ukuran masa itu bisa berakselerasi brutal ini menjadi hit! Dengan top speed hingga 212 Km/h, si CB 750 pun tertinggal sekitar 10 Km/h lebih lambat.

Berbeda dengan performa mesinnya, handling Z1 tidak menuai pujian, bahkan dirasa kurang. Untuk pengendaraan normal memang dinilai cukup, tetapi ketika rider menguras maksimal kemampuan mesin, terasa suspensi dobel di belakang dan garpu teleskopik di depan tidak sanggup meladeni. Rangka pipa baja pun dinilai kurang untuk mengendalikan mesin buasnya. Disamping itu, setang dinilai terlalu tinggi, terlebih saat motor digeber di kecepatan tinggi. Motor yang menggunakan velg ring 19 ini pun dinilai buruk dalam segi pengereman. Lihat saja di depan hanya dilengkapi dengan sebuah rem cakram yang secara optis tidak lebih baik dari rem cakram Honda Tiger, tetapi harus menghentikan laju sang raja jalanan yang berbobot hingga 246 Kg ini. Bobot yang dianggap berlebihan ini untungnya tertutup oleh proporsi Z1 yang dinilai pas. Segala kekurangan handling pun tertutup oleh penampilan cantiknya dengan tanki dinamis dan bodi samping yang langsing. Buntut bebek di buritan pun semakin mempermanis penampilan Z1.

Motor yang jadi moyangnya ZX-RR ini pun tidak lepas dari tangan gatel para pemiliknya yang ingin motornya tampil lebih dahsyat. Di sisi mesin, para tuner pun berhasil menunjukkan, masih banyak ruang kosong dan tenaga yang bisa digali dari dapur pacu Z1. Di sisi handling, banyak yang mengatasi kelemahannya dengan mengganti suspensi atau memasang stabilizer setang. Maklum, kalau di kecepatan tinggi, motor ini menjadi tidak stabil! Ya kalau diingat sejarahnya, kan mesinnya dulu direncanakan hanya 750 cc. Buat bikers Z1 yang masih kurang puas, mereka menghubungi spesialis macam Harris, Martin, Egli atau Bakker yang siap memodifikasi atau membuatkan rangka gress untuk Z1.

Secara umum, motor yang memang hit ini memuaskan penggemarnya. Dalam dua tahun kedepannya, Z1 yang mesinnya memang top dan bandel tidak mengalami perkembangan di sektor mesin, hanya mendapat sedikit make up di sektor cat, stripping ataupun warna blok mesin. Baru memasuki tahun 1976, doi dibekali dobel cakram, yang tadinya ditawarkan optional semata. Karburator pun diganti dengan yang berventuri lebih kecil dan knalpot dirancang lebih dapat meredam suara. Langkah yang menurunkan sedikit performa ini tak lepas dari langkah Kawasaki mengikuti konsensi emisi Amerika Serikat. Z1 pun diganti namanya menjadi Z 900. Hanya satu yang tidak berubah, statusnya sebagai raja jalanan!


Sumber:
Roland Brown: Motorräder, Faszination und Abenteuer.

Mau Mudik........

Semester ini, sebenarnya saya dan teman-teman seangkatan sudah selesai kuliah. Ada yang dalam proses menunggu sidang, ada juga yang memilih tidak ikut sidang. Satu persatu mereka pun mudik.....
Salah satu diantaranya teman saya yang mengundang makan malam ini (mengundang karena saya minta diundang hihihi...). Mereka, Thu dan Giang, sudah siap-siap mau mudik ke Vietnam. Saya yang tadinya bertekad tidak akan mudik sebelum studi kelar pun jadi goyah... Terlebih lagi bulan depan masih belum dapat kamar huhuhu... Susahnya cari kamar di awal semester musim dingin di Jena memang rada-rada keterlaluan. Jumlah kamar yang diorganisir universitas dan organisasi yang mengurusi mahasiswa jauh dari cukup. Tidak heran kalau ada yang tinggal di kota tetangga ataupun terpaksa menyewa apartemen yang harganya 2-3 kali harga sewa di asrama. Lho kok jadi curhat gini... maklum Bro, susah kalau tidak punya kamar di marih, kan kalau mau perpanjang visa dll harus punya kontrak! Kalau tidak ya repot, apalagi buat yang baru sampai/ baru mulai studi di sini. Kalau tidak ada kontrak kamar/ tempat tinggal, artinya tidak bisa buka rekening tabungan, tidak bisa punya asuransi ujung-ujungnya tidak bisa perpanjang visa! Belum lagi suhu yang mulai dingin... rasanya ijk mau mudiiiiiiiiiiiiiiik... apalagi sudah 3 kali puasa 3 kali lebaran tidak pulang-pulang huhuhu...
I miss Indonesia... dah paling top deh bisa tinggal di Indonesia... bule-bule pun banyak yang mengakui kok. Terlepas dari segala permasalahan yang diciptakan orang-orangnya sendiri, Indonesia tetap menjadi tempat paling enak buat menetap dalam jangka panjang. Memang kalau melihat Jerman sekilas sangat wah... tetapi kalau sudah lama tinggal di Jerman, hehehe... sepertinya situ pun bakal berubah pikiran, ya selera, keadaan dan kebutuhan beda-beda sih...
Ramadhan lalu di Mesjid Jena saya sempat beberapa malam teraweh bertemu dengan orang Indonesia, namanya Pak S.. Beliau ke Jena mendampingi istrinya yang dioperasi di Jena, karena di kota kecil ini memang untuk urusan kedokteran dan teknologi laser bisa dibilang T.O.P! Pak S. sendiri masih sangat sehat kalau mengingat usianya. Beliau sudah tinggal 50 tahun di Albania, yup 50 tahun! Dari gaya berbahasanya, tampak jelas kalau beliau kaya pengalaman dan cerdas! Dulu beliau termasuk mahasiswa yang dikirim ke luar negeri oleh pemerintah Soekarno, tetapi saat Soeharto berkuasa tidak boleh kembali ke Indonesia karena ditakutkan akan menggoyang kekuasan Orde Barunya. Bayangkan, berapa banyak putra bangsa terpilih yang disia-siakan karena kebijakan yang tidak bijak ini???? Bayangkan rasanya kalau tidak boleh pulang ke negara sendiri! Alhamdulillah di zaman Gus Dur, mereka diperbolehkan kembali ke Indonesia, walaupun mungkin sangat...sangat...sangaaaaaaaaat terlambat. Alhamdulillah juga saya bisa pulang kalau saya mau pulang... ga kebayang deh kalau sampai dilarang mudik. Negara sendiri dalam keadaan damai pastinya menjadi tempat dimana manusia bisa merasa "di rumah". Betul Bro... sekarang saya paham, kenapa "merasa di rumah" adalah sebuah perasaan yang mahal, sayang kalau kita sampai tidak mensyukurinya...
BTW, pemirsa, doakan saya dapat kamar ya, belum punya kamar buat 3 bulan kedepan nih huhuhuhu.... kalau tidak punya kamar, artinya tidak ada kontrak kamar. Kalau tidak ada kontrak, bagaimana bisa perpanjang visa yang habis bulan ini... huhuhuhu... aku mau mudik sajaaaaaaaaaaaa..........

Selasa, 22 September 2009

Studi Banding Sotoy: Penjualan ATPM Jerman

Menyambung artikel kemarin, saya menampilkan artikel berikut ini. Artikel ini akan memberikan gambaran kepada Bro, kira-kira seperti apa sih pasar motor Jerman, dan berapa unit motor dari pabrikan mana yang diapresiasi baik oleh pasar:
Suzuki Gixxer 600 melejit ke posisi puncak teratas penjualan motor di Jerman pada bulan Oktober 2008 lalu, setelah di bulan sebelumnya menempati rangking ke-22! Dengan demikian, motor supersport dengan kemampuan merata dan harganya paling ekonomis ini menggusur BMW R 1200 GS ke posisi ke-2. Posisi ke-5 harus diterima Honda CBF 600 S, yang sebelumnya menghuni podium ke-3, sedangkan di tempat ke-3 ditempati Honda CBF 1000.
Suzuki sendiri dalam periode Januari-Oktober 2008 memasarkan 1103 unit Gixxer 600. Dengan dipasarkannya 229 unit Gixxer ini di bulan Oktober 2008, artinya 1/5 penjualan Motor Supersport Suzuki Jerman selama periode tersebut, disumbangkan Gixxer kelas menengah ini hanya dalam satu bulan penjulan, yakni Oktober 2008! Di periode yang sama (Oktober 2008) BMW berhasil memasarkan 212 unit R 1200 GS, sedangkan Honda melepas 120 unit CBF 1000. Dibandingkan Oktober 2007, BMW kehilangan kue jatah penjualan. Di Oktober 2007, bagian BMW sebesar 23,2%, sedangkan di Oktober 2008 menyusut hingga tinggal 16,1%. Meskipun begitu, BMW masih memimpin atas Suzuki di posisi ke-2 dan Honda di posisi ke-3 dalam hal jumlah penjualan.
Jika kita mengamati penjualan sepanjang tahun 2008 hingga bulan Oktober, maka BMW memimpin dengan 6143 unit R 1200 GS, di tempat ke-2 dihuni oleh Honda CBF 600 S yang laku sebanyak 3708 unit dan di podium ke-3 dihuni Suzuki Bandit 1250 yang laris sebanyak 2946 unit.
Berikut ini perincian 10 motor terlaris di bulan Oktober 2008 untuk pasar Jerman:

Platz 1 Suzuki GSX-R 600: 229 Stück
Platz 2 BMW R 1200 GS: 212 Stück
Platz 3 Honda CBF 1000: 120 Stück
Platz 4 Kawasaki ER-6f/6n: 116 Stück
Platz 5 Honda CBF 600 S: 92 Stück
Platz 6 BMW F 650 GS/F 650 GS Dakar: 67 Stück
Platz 7 Kawasaki Z 750/S: 65 Stück
Platz 8 Harley-Davidson Dyna Fat Bob: 61 Stück
Platz 9 Harley-Davidson Dyna Street Bob: 56 Stück
Platz 10 BMW F 800 GS: 54 Stück

Sebagai perbandingan, berikut penjualan di bulan September 2008:
Platz 1 BMW R 1200 GS: 346 Stück
Platz 2 Yamaha FZ6 Fazer: 331 Stück
Platz 3 Honda CBF 600 S: 255 Stück
Platz 4 Honda CBF 1000: 188 Stück
Platz 5 Yamaha YZF-R6: 163 Stück
Platz 6 Yamaha FZ1 Fazer: 157 Stück
Platz 7 BMW F 650 GS / F 650 GS Dakar: 135 Stück
Platz 8 Kawasaki ER-6f/6n: 133 Stück
Platz 9 Yamaha YZF-R1: 125 Stück
Platz 10 BMW R 1200 R: 120 Stück

Secara keseluruhan, presentase penjualan dari bulan Januari hingga September adalah:

1. BMW dengan 16,5% (Agustus 2008: 16,6%)

2. Honda dengan 15,7% (Agustus:15,8%)

3. Suzuki dengan 15,6% (Agustus: 16,2%)

Biar lebih maknyuzzz, ini daftar motor terlaris di bulan Agustus 2008:

Platz 1 Honda CBF 600 S: 360 Stück
Platz 2 BMW R 1200 GS: 338 Stück
Platz 3 Suzuki Bandit 1250: 319 Stück
Platz 4 Honda CBF 1000: 277 Stück
Platz 5 Yamaha FZ6 Fazer: 266 Stück
Platz 6 KTM 950 LC8 Supermoto: 265 Stück
Platz 7 Suzuki GSR 600: 254 Stück
Platz 8 Kawasaki ER-6f/6n: 184 Stück
Platz 9 Yamaha FZ1 Fazer: 156 Stück
Platz 10 BMW F 650 GS/ F 650 GS Dakar: 132 Stück
Kesimpulan:
1. Di Jerman bisa dibilang jualan sambil sikut-sikutan, di Indonesia belum (kalau dibandingkan dengan keadaan pasar motor Jerman yang permintaan produk motornya relatif minim karena keadaan alam yang relatif dingin, transportasi publik yang sangat baik dan berbagai faktor lainnya).
2. Di Jerman tidak ada Pabrikan yang sangat dominan, di Indonesia masih dua pabrikan itu lagi-itu lagi, jadi jangan harap bisa dapat produk "terbaik" dengan harga ekonomis dalam waktu dekat.
3. Di Jerman jumlah unit yang terjual jauh lebih sedikit, tetapi kok bisa untung? Malah pabrikan MZ dibuka kembali, dengan bos si Ralf Waldmann dan Martin Wimmer. Nah, kalau da pabrikan di Indonesia yang terancam bangkrut, apakah karena pasarnya yang tidak menguntungkan, manajemennya yang berantakan, marketingnya gagal maning, jualan banyak tapi untungnya kedikitan, aturan pemerintah yang terlalu ribet, atau banyak kebocoran bin pungli??????
4. Meskipun motor touring kerap merajai pasar, tetapi tidak terlalu dominan jumlahnya. Bandingkan dengan pasar Indonesia yang paling doyan bebek dan mulai ketagihan matic! Jumlah kedua jenis motor ini sangat dominan kan dibandingkan jenis motor lainnya... Nah, kalau jualan yang begitu-begitu saja pabrikan sudah kekenyangan, jangan harap kita bakal disuguhi motor-motor sport/ motor-motor high performance! Pabrikannya yang selalu mau enak, atau kita (padahal ijk beli motor baru sekali hihihi...) sebagai pasar yang bikin pabrikan (terkesan) malas?
5. Meskipun melenceng dari tema: Media! Media massa yang kredibilitasnya tidak disangsikan dalam mengetest produk-produk baru! Hasil test yang terukur, sebisa mungkin objektif dan lengkap mengukur motor secara keseluruhan, mulai dari performa, konsumsi bahan bakar, harga onderdil, kemungkinan setting dan fitur tambahan yang ditawarkan plus kritik dan penjelasan kelemahan-kelemahan motor, membuat produsen mau tidak mau jauh lebih giat menyempurnakan produknya! Kalau di Indonesia bagaimana? Haruskah kita sebagai bikers membentuk organisasi kecil independent yang bisa seobjektif mungkin mengupas kelebihan dan kekurangan produk baru dan memberikan penjelasan kepada calon konsumen, bukan mempengaruhinya??????????


Sumber:

Senin, 21 September 2009

Kesenjangan Sosial di Jerman vs. Indonesia
























.
Bro tahu kan, kalau negara kita termasuk negara dengan tingkat kesenjangan sosial yang cukup tinggi. Kalau di Jerman, meskipun sejak krisis ekonomi 2.0 melanda dan membuat jurang antara golongan kaya dan miskin membesar akibat jumlah orang yang masuk golongan menengah banyak yang rontok terhantam krisis, jurang kesenjangan sosialnya masih relatif tidak terlalu besar. Kecilnya kesenjangan sosial di negara mobil ini berbanding terbalik dengan produk motor yang dipasarkan. Kalau boleh saya membuat sebuah teori:
Kesenjangan sosial di masyarakat berbanding terbalik dengan kesenjangan sosial motor yang dipasarkan. Artinya: Kalau tingkat kesenjangan sosial masyarakatnya tinggi, maka tingkat kesenjangan sosial motor yang umum dipasarkan rendah, dan sebaliknya.
(Teori Tingkat Kesenjangan Sotoy by Prof. Dr. Arie Slight S.E. [sarjana edan] )
Misalkan di Indonesia, harga motor tertinggi hingga terendah yang umum dipasarkan tidak sampai 10 kali lipatnya kan? Ya, ini tentunya terkait juga dengan kebijakan pembatasan kapasitas motor yang dibawah 250 cc. Sebaliknya di Jerman, harga motor tertinggi dan terendah lebih dari 10 kali lipatnya. Misalkan harga Kymco Pulsar ataupun Sym Mio (keduanya pernah dibahas bulan Juli lalu) yang dipasarkan di bawah 1700 Euro, sedangkan harga satu unit BMW HP-2 Sport tembus 21600 Euro (paling murah-tergantung fitur tambahan), padahal BMW kece yang satu ini bukan yang termahal lho. Tingkat kesenjangan sosial motor yang umum dipasarkan di Jerman bisa dibilang tinggi, karena motor murah hingga motor sangat mahal dan motor berkapasitas kecil hingga berkapasitas extra besar, beredar di negara ini.
Hmmm mungkin kalau tingkat kesenjangan sosial di masyarakat kita kecil, tingkat pendapatan masyarakat tinggi dan pertumbuhan ekonomi stabil, baru kita bisa mengalami keadaan, dimana tingkat kesenjangan sosial motor yang umum dipasarkan cukup tinggi.

Foto: HP-Klassikku