Senin, 20 Juli 2009

Terjatuh Lagi.......

Hari Jumat kemarin, sepulang dari Sachsenring saya ngubek-ngubek internet. Dari berbagai sumber tersaji berita ledakan Bom kembali terjadi di Jakarta. Untuk itu, saya ingin mengucapkan rasa bela sungkawa yang dalam kepada para korban dan kerabat, sesungguhnya kita semua pun turut menjadi korban atas aksi bejat ini!
Sekitar 2 minggu lalu, ada wawancara di TV yang membahas bahaya terorisme menjelang pemilu Jerman. Intel mensinyalir ada pergerakan orang-orang tertentu dari Jerman ke Pakistan dan Afghanistan yang dijuluki lumbungnya teroris. Sampai wawancara itu ke titik dimana nama Bali dibawa-bawa. Dalam hati saya kesal juga, kan sekarang Indonesia sudah aman dan tidak ada Bom-boman lagi! Namun, peristiwa Jumat lalu menguak luka yang belum dan sangat susah kering itu!
Ada yang bilang, semua ini ulah pihak asing! Indonesia adalah negara muslim yang memiliki potensi sangat besar untuk bangkit menjadi negara maju, bahkan super power! Hal itu tentunya bisa diartikan ancaman bagi pihak-pihak tertentu, untuk itu, harus dilumpuhkan sedikit-sedikit. Ingat saat di Sachsenring kemarin... saat Dovisioso terpaksa menyerah karena ban depannya ancur minah? Padahal Dovi sempat mencatat fastest lap kan? Nah kira-kira nasib Indonesia seperti itu... Saat progres sedang terjadi dan disinyalir sukses, maka harus digembosi! Bedanya, Dovi bukan korban terorisme, kita yang jadi korban...
Bayangkan, teroris menanti moment yang tepat, yakni menggunakan rencana kedatangan MU! Akibatnya, ada efek gaung yang ditimbulkan! Tiap artis asing pun mengkhawatirkan popularitas mereka akan ditumpangi aksi teroris jika mau tampil di Indonesia! Impian kita sebagai bikers pun yang ingin menyaksikan langsung WSBK atau sekalian ngimpi: MotoGP pun buyar! Mana mau mereka datang ke Sentul kalau risikonya besar???!! Terlebih lagi negara-negara lain rebutan mengajukan lamaran yang menarik ke pihak penyelenggara. Seperti di siaran TV yang membawa nama-nama Bom Bali, peristiwa ini pun demikian akan membebani kita hingga beberapa tahun bahkan hingga puluhan tahun kedepan!
Mau apa sih teroris??? Mau masuk surga???? Dikira dirinya paling beriman??????? Seenaknya membawa nama Jihad!!!!! Ini namanya fitnah bagi Islam! Dan pengkhianat bagi Indonesia! Mau diparut tuh orang gebleg!
Apakah terorisme itu asalnya memang dari dalam negri, maksudnya adanya fanatisme sempit ataupun dari luar negri yang bermuatan politis maupun agama, itu sebenarnya tidak perlu panjang-panjang diperdebatkan! Yang paling penting adalah usaha pemberantasannya! Jangan kasih terorisme bisa bernafas lega di negri kita! Susah sih... wong bikin KTP sampai 3 pun mudah, wajar saja kalau teroris punya ruang gerak yang luas......
Mestinya ada perubahan kurikulum agama di sekolah. Bahaya terorisme ini sebaiknya diangkat di pelajaran agama tingkat SMA maupun di universitas. Penerus bangsa ini harus diingatkan, bahwa bukankah Islam itu mengajarkan kedamaian? Bukankah hubungan kepada Allah SWT, sesama manusia, dan lingkungan hidup harus dijaga?
Enak saja jadi teroris dibilang jihad! Mau masuk surga kok malah bikin dosa besar (kalau memang motivasinya mau masuk surga lho...). Wong punya utang ga mau bayar aja ga masuk surga..... Nah Ini dah bunuh orang, bikin banyak anak jadi yatim, bikin tulang punggung keluarga jadi cacat, bikin negara jadi miskin, plus memfitnah agama, bikin orang muslim yang mau beribadah benar jadi tercoreng orang-orang yang mencemooh, masa mau masuk surga???!!!!! Ingat, dalam Islam kita diwajibkan terus belajar dan menuntut ilmu! Kalau kita belajar agama dengan benar, mestinya doktrin-doktrin terorisme tidak mempan kan... Dan ingat, bukankah Nabi sudah mengingatkan hadirnya ulama-ulama palsu di kemudian hari dan mengatakan betapa berbahayanya orang-orang semacam ini???
Partai-partai politik Islam pun selayaknya melakukan aksi demonstrasi menentang aksi ini... Jangan diam saja dan sibuk minta jatah kursi! Ingat, dunia turut menyaksikan! Ingat, yang paling dirugikan aksi terorisme adalah umat Islam! Aksi-aksi ini akan jadi bahan yang bagus digunakan untuk propaganda-propaganda antiislam! BTW, Apakah sudah ada partai Islam yang bergerak menentang aksi teror ini? Maaf, akses saya terbatas, di TV sini sih tidak ada kabarnya... Kalau sampai benar-benar tidak ada, wah kecewa beraaaaaaaaatttt... Siap-siap aja partai yang pasiv di musim pemilu mendatang suaranya jeblok!
Terorisme memang harus diberantas tuntas.. Tidak perlu mimpi menangkap aktor intelektual (paling bagus sih kalau bisa tersingkap dan ketangkap juga), tangkap saja pimpinan di lapangannya! Kan kalau tidak ada bandar tidak akan ada pengedar! Mudah-mudahan aksi setan ini jadi yang terakhir di negri kita, sebab aksi ini memang membuat kita semua benar-benar terjatuh lagi...

Foto: HP-Klassikku

Jumat, 17 Juli 2009

Mumpung Anget......

Memang mestinya saya belum kembali mengudara.... Namun, sayang kan kalo berita hangat dibiarkan dingin begitu saja...
Ini sebagian gambaran dari Sachsenring hari ini, beda jauh dengan saat IDM lalu, kali ini tempat camping pun penuuuuuuuuuhhhhh....

Dah ada komidi putar pula... BTW, kok truk masuk sirkuit ya??? mudah2an bukan bom!

Waktu IDM dulu, tidak ada tribun-tribun semacam ini... penoonton jauh lebih dimanjakan (Mahal Bro tiketnya....)



Dovi mana ya??? Kayanya belom bangun...



Motornya James Toseland...

Nongkrong bentar dibelakang Katja Poensgen... biar masuk TV gichuu...



Akrab dengan masyarakat Indonesia.......

Address 125, Alias Shogun 125......

Ga cuma balap, Repsol Honda ikutan dagang.....


Warung doyong.......

Paramedis yang kepanasan.......



Lorenzo's M1........... rame banget nih yang mau foto-foto.....

Duo Repsol........... Kali ini ijk jagokan Pedrosa.....

Mantannya Takahashi....... Sekarang jadi milik Talmacsi... ternyata bukan hanya cewe yang matre...

Alat pencari nafkah Simoncelli n Locatelli......

Motor Aprilia sapa neeeee????

Motornya sang jagoan Thailand.........
Foto: HP-Klassikku

Jumat, 03 Juli 2009

Gangguan Kejiwaan

Mengingat: Saya mulai menampakkan gejala-gejala mengalami gangguan kejiwaan...


Menimbang: Jika sakit jiwa kambuh, saya akan memberikan pengaruh berita dan buah pikiran yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kesesatannya.....


Memutuskan: Tidak mengupdate artikel blog ini hingga 21 Juli 2009 mendatang.....


Tetap sesat, tetap semangat!!!!!!!!!!!!!!!!!

Bukan Hanya Model

Bukan hanya model yang dituntut memiliki tinggi badan dan berat proporsional, pembalap profesional pun juga demikian, betul?????

Kita mulai dari berat badan... Tidak ada kan pembalap level dunia yang overweight? Alasannya Bro sudah pasti tahu... Bayangkan, kalau motor di tune up susah payah untuk menghasilkan tenaga besar, tetapi power to weight rationya anjlok gara-gara jokinya terlalu berat. Tim balap mana yang tidak sakit hati kalau sudah susah payah memasang peranti karbon untuk menggantikan peranti-peranti standard yang lebih berat, tetapi di sisi lain pembalapnya malas menjaga berat badan? Bukan hanya akselerasi motor yang menjadi lambat jika si pembalapnya berbobot lebih dibandingkan pembalap lain, tetapi juga pengaruh ke faktor lain yang sangat penting di dunia balap. Sebut saja konsumsi bensin yang lebih boros. Belum lagi ban akan lebih cepat aus, atau bahkan kalau mau lebih bawel lagi: gir, rantai, mesin dan seisinya, dijamin lebih pendek umurnya kalau si joki over weight.
James Toseland saat ini lagi giat-giatnya berlatih fisik secara keras. Dia berusaha mengurangi bobotnya dengan diet dan fitnes. Hasilnya: gagal...... Maksudnya, secara prestasi masih gagal. Tampaknya doi terlalu stress untuk berprestasi, apalagi rekan (musuh-red) setimnya, Colin Edwards selalu tampil lebih baik. Jangan lupa, pekerjaan yang tidak dilakukan dengan senang hati hasilnya memang seringkali tidak menyenangkan bukan???
Bagaimana kalau jokinya jago??? Apa masih bisa menang??? Ya namanya dunia, apa sih yang nggak bisa?!!!!! Namun, kalau kompetisi sangat ketat, tidak ada itu tawar-menawar. Motor plus pembalap berat, racing linenya cenderung melebar, titik pengereman pun bertambah molor, dan jangan lupa, akselerasi yang lebih lambat...... Kalau sudah begini, apa masih bisa kompetitif?

Sekarang kita beralih ke tinggi badan! Apakah pembalap yang bertinggi badan ideal (maksudnya ga segede pemain basket lho... yang ideal buat balap motor lah) punya keuntungan dibandingkan pembalap berbadan mungil? Pembalap semacam Dani Pedrosa, Marco Melandri, Loris Capirossi tentunya dapat menimbulkan pendapat, bahwa pembalap dengan tinggi badan rendah justru bisa berprestasi lebih baik dibandingkan pembalap yang jangkung. Namun, kita harus ingat: pembalap pendek=logikanya berat badannya ringan, sedangkan pembalap jangkung=logikanya berat badannya lebih berat dibandingkan yang pendek.
Sekarang kita lihat, apakah ada pembalap kelas para raja yang berbadan (terlalu) mungil? Skil yang diandalkan pembalap berbadan mungil untuk menghadapi pembalap tinggi. Meskipun mungil, bukan berarti loyo lho, mereka sangat terlatih! Memang mereka diuntungkan dengan bobotnya yang relatif lebih ringan dan secara aerodinamis lebih baik. Namun, dalam urusan "menggunakan badan" untuk mengendalikan motor, mereka kesulitan. Bagaimana mau menopang motor dengan dengkul kalau posisinya di tikungan terlalu menggantung? Bisa sih, tetapi pasti sangat menguras tenaga kan... Pembalap yang tinggi akan lebih mudah menggunakan teknik ini. Pembalap yang tinggi pun akan lebih mudah menjaga arah dan titik keseimbangan motor. Logikanya: lihat saja di sirkus... Kenapa saat meniti tali si pemain sirkus merentangkan tangan? Kenapa saat meniti tali akan lebih mudah jika menggunakan bantuan tongkat untuk menjaga keseimbangan? Nah sadar-tidak sadar, pembalap yang tinggi bisa lebih mudah memindahkan titik berat motor, ujung-ujungnya mereka lebih mudah mengendalikan motor di tikungan, terutama tikungan kombinasi cepat dan saat mengerem habis-habisan.
Pembalap (kelas MotoGP/Supersport/superbike) itu sebaiknya tinggi (kira-kira 174-184 cm... ini itungan kira-kira saya sendiri lho...) dan berbobot tidak lebih dari 65 Kg. Jika syarat fisik ini terpenuhi, maka si pembalap sudah menang selangkah... Lihat saja Valentino Rossi, Ben Spies atau Marco Simoncelli..... Dengan tinggi badannya mereka bisa dengan sepenuhnya mengendalikan motor. Namun, sekali lagi perlu diingat, menangnya hanya selangkah, sebab balap motor bukannya olahraga yang sangat mengandalkan tinggi badan layaknya basket ataupun voli.
Saat saya ketemu Chris Burns, dia juga punya ciri pembalap ideal lho... tinggi, kekar dan bebas lemak. Kalo ngubek-ngubek di website MotoGP, tinggi Burns tercantum hanya 170 cm, tetapi pada kenyataannya????? Begini Bro, tinggi saya sendiri sudah sekitar 170 cm, masa si Burns tingginya 170 cm??? Barangkali salah tulis tuh... Bro pernah dengar-dengar nama Chris Burns? Doi sempat turun di MotoGP tahun 2003/2004 dengan Harris WCM yang mengandalkan mesin Yamaha R1 yang diodol-odol. Namun, gagal maning....... Dapat point satu saja tidak. Mesin M1 zaman itu saja sudah kewalahan menghadapi RC211V, apalagi kalau cuma pakai mesin R1!! Mungkin kalau tahun ini ikutan bisa jauh lebih mudah meraih point, kan tinggal tunggu jatuh 4 orang, maka point pun diraih dengan sendirinya hihihi....
Kesimpulannya: Memang bukan hanya model yang harus tinggi dan singset, pembalap pun dituntut demikian. Bedanya, di dunia balap tinggi badan itu masih relatif, sedangkan berat badan tidak bisa ditawar-tawar!

Foto: HP-Klassikku

BMW R35 dan R12, Hadirnya Garpu Teleskopik di Jerman









BMW R12
BMW R12 yang berkapasitas 750 cc mulai diproduksi BMW pada tahun 1935. Doi diproduksi untuk menggantikan BMW R11 yang sudah berdinas sejak tahun 1929. Teknologi anyar yang ditawarkan R12 adalah garpu depan teleskopik oli. R12 sendiri dipastikan sebagai motor Jerman pertama yang merasakan nyamannya redaman garpu teleskopik dengan peredam oli. R12 mencatatkan diri sebagai BMW yang paling banyak diproduksi di masanya. Dari tahun 1935-1942 dan 1945-1946, tercatat BMW menyelesaikan 36000 unit R12.
Motor yang berkapasitas tepatnya 745 cc ini memiliki tenaga lumayan di zamannya, yakni sedikit lebih besar dibandingkan Honda Tiger, yaitu 18 PS @ 3400 rpm. Jika menggunakan sespan, maka motor twin ini hanya sanggup berlari hingga 80 Km/jam saja, sedangkan jika sespan dilepas, doi bisa ngacir hingga 100 Km/jam. R12 banyak digunakan oleh pegawai pos, tentara dan pegawai keuangan di masa kekuasaan Hitler. BMW pun menawarkan peranti tambahan misalnya tas, sadel boncenger hingga sespan.


BMW R35
Motor yang nongol pada awal tahun 1937 ini berkapasitas tepatnya 342 cc. Motor ini diproduksi untuk menggantikan R4 yang sejak tahun 1932 telah terkenal sangat yahud kehandalannya. R35 menawarkan teknologi terbaru. Motor ini mencatatkan dirinya sebagai motor Jerman satu silinder pertama yang menganut garpu teleskopik yang sebelumnya hanya dicangkokkan di motor-motor twin BMW. R35 yang bertenaga 14 Ps @ 4500 rpm dan memiliki kecepatan puncak hingga 100 Km/jam berdinas untuk pos dan tentara Jerman saat itu.
BMW menyediakan aksesoris tambahan bagi R35 seperti sadel boncenger, tas kulit ataupun protektor bak oli (wah produsen motor di Indonesia saja sampai saat ini pun masih belum menempuh langkah memanjakan konsumen.... artinya apa??????). Motor BMW ini diproduksi dalam kurun waktu 1937 hingga 1940. Dalam masa itu, terlahirlah 15.400 unit R35, lumayan banyak untuk ukuran zaman itu.
Yang membuat saya mengernyitkan dahi bukan sok depan kedua BMW oldtimer ini, melainkan saat melihat rangkanya. Saat melihat rangka R35 dan R12, saya langsung teringat rangka Suzuki RGR........

Foto: HP-Klassikku

Kamis, 02 Juli 2009

Dicontreng, Bukan dikasih Kumis.......

Yo Bro.....
Pemilihan umum telah memanggil kita, seluruh rakyat menyambut gembira......
(Kok ijk biasa2 aja ya??????)
Dalam rangka pemilihan langsung presiden mendatang, sudahkah Bro memutuskan untuk memilih siapa? Atau Bro memutuskan untuk tidak memilih siapa-siapa?
Itu semua terserah kepada Bro masing-masing. Namun perlu diingat, kita harus bisa bersyukur kalau di negara kita bisa diselenggarakan pemilihan langsung presiden secara damai dan jujur (mudah-mudahan...). Ini adalah kesempatan bagi kita untuk bisa sedikit membuat perubahan di Indonesia yang tentunya kita berharap menuju ke arah yang lebih baik.
Silahkan diamati setiap calon, diamati kinerjanya. Dilihat janji-janjinya, dan bagaimana prilakunya hingga saat ini. Dilihat juga siapa orang-orang dibelakangnya, dan bagaimana kelakuan orang-orang dibelakangnya...
Kalau sudah yakin, dengan mengucap doa, mari dicontreng di dalam kotak yang disediakan, bisa di fotonya, di nomor urut, atau di nama kandidat. Sebaiknya kita menyikapi ini dengan serius, jangan dikasih kumis, dikasih jenggot atau dikasih tompel itu calon-calonnya.... Jangan juga ditambahkan kata-kata dalam bentuk apapun.....
Selamat mencontreng Bro....... Bro mau tahu pilihan saya???? Saya sih tidak akan merahasiakannya...
Saya pilih:
No. 4
Pasangan Gus Pur dan Jomblo Ati
gitu aja kok repot........
(corong mode: on fire.......)
Foto: Hp-Klassikku

Rabu, 01 Juli 2009

Barang Dagangan di Sachsenring
































Foto:HP-Klassikku