Jumat, 06 November 2009

Bicara Moto2 (4)

Menutup pembicaraan kita tentang Moto2, kita beralih menuju ke 2 tim balap yang sudah mapan, yakni timnya Fausto Gresini dan Herve Poncharal.

Konstruktor yang beruntung terpilih menjadi klien Gresini adalah konstruktor yang namanya pasti Bro semua sudah kenal, yakni Moriwaki. MD 600 hasil racikan mahaguru korek MAmoru Moriwaki yang sudah lebih dari satu dasawarsa dekat dan sering bekerjasama dengan Honda tentunya menjadi jaminan tersendiri bagi Gresini untuk menggandeng Moriwaki.
Saat pertama kali diperkenalkan di GP Jepang, MD 600 terkesan berat dan terlalu kokoh. Namun, akhir September lalu motor ini berhasil menjuarai balap AJC 250 cc dan meninggalkan pesaing terdekatnya dengan jarak yang cukup meyakinkan, yakni 6 detik. Pengalaman sebagai konstruktor selama 20 tahun dan prestasi ini tentunya semakin meyakinkan Gresini. Gresini berkomentar, " kami mengamati 6 proyek Moto2 dan menurut kami, Moriwakilah yang paling lengkap dan paling siap tempur serta paling mampu memberikan jaminan untuk kerjasama dan meraih kesuksesan. Buat apa saya mengambil yang lain, yang masih tertera di atas kertas, kalau Moriwaki sudah mampu meraih kemenangan dalam balap?" Tim Gresini adalah tim yang terlibat di balap motor, mereka memiliki kantor dan lapangan parkir untuk truk-truk mereka, tetapi tidak memiliki sentra pengembangan teknologi sendiri. Karena itulah, Gresini tergantung dengan partner semacam Moriwaki.
Berbeda keadaannya dengan tim Monsieur Herve Poncharal, pria asal Prancis yang memanageri tim Tech3 yang tahun depan nanti mempekerjakan 2 orang cowboy Texas di timnya, Edwards dan Spies, so don't mess with Texas! Tech3 mempunyai sentra pengembangan teknologi balap tersendiri di Prancis, singkatnya tim ini tidak perlu pusing-pusing mencari partner konstruktor! Laboratorium yang isinya mekanik ini dikomandoi oleh Guy Coulon, sang kepala mekanik Edwards di MotoGP. Dengan demikian Poncharal juga sibuk dengan proyek tim Moto2nya. Menurutnya, sangat menyenangkan bisa membangun motor sendiri. Proyek ini pun dianggapnya sebagai laboraorium untuk masa depan nanti, dimana ada kemungkinan Tech 3 bisa membuat motor dan sasis sendiri. Selain itu, tim Moto2 dianggapnya sebagai ladang untuk menggembleng para pembalapnya untuk menggempur MotoGP. Poncharal berpendapat, lebih baik mengembangkan pembalap sendiri dibandingkan membeli talenta mahal-mahal untuk balap di kelas para raja. "Di tim kami, kalau ada pembalap yang mampu masuk 3 besar Moto2, maka dia tahun depannya boleh balap di MotoGP. Namun, itu ide saya lho... tentunya harus disetujui oleh Yamaha!"
Sumber: idem

Bicara Moto2 (3)

Tarik lagi Laeeeee... Nah masih ada proyek-proyek lainnya yang dikembangkan dalam rangka menyambut Moto2. Di Spanyol misalnya, lahir bintang baru di kejurnas mereka. Motor itu dinamai BQR-Honda, proyeknya Raul Romero yang bentuknya sepintas mirip dengan konsepnya Kalex. Motor ini dikembangkan dan dirancang di Spanyol, tetapi diproduksi oleh perusahaan pembuat chassis di Jepang bernama Burning Blood. BQR-Honda yang dikendarai oleh Alex Criville, Jürgen van den Goorbergh, Dirk Heidolf atau Kevin Schwantz berhasil membuat para penonton di tribun-tribun di Indianapolis dan Assen bergidik melihat performanya.

Kevin Schwantz langsung nyengir-nyengir kegirangan selepas mengetes BQR Honda hingga 5 lap. Doi berkomentar, motor ini sangat lincah dan mudah diajak mengubah arah. Manuver terasa ringan dan sangat presisi. Chassis terasa lebih kaku dibandingkan motor-motor supersport. Ketika doi menggeber motor lebih cepat, dia merasa ada chattering di roda depan, tetapi menurutnya dengan test-test lanjutan bisa diatasi. Secara keseluruhan, BQR Honda sangat meknyuz untuk diajak bersenang-senang, meskipun mesinnya "kurang menggigit" layaknya motor 2-tak. Buat Schwantz, mesin dinilai terlalu jinak, tetapi dia berkomentar, motor ini bakal mudah dikendalikan oleh pembalap-pembalap muda sehingga mereka bisa lebih gontok-gontokkan di sirkuit nantinya.

Roberto Rolfo yang mengembangkan Laglisse dan SRT MMX juga memberikan komentar positif terhadap motor-motor Moto2. "Moto2 sangat mengejutkan, tidak kuduga bisa mirip dengan motor GP 250. Meskipun bobotnya lebih berat, titik pengeremannya mirip, engine brake motor 4 tak membantu disini! Di titik tercepat tikungan, Moto2 juga sama cepatnya dengan motor 250 cc. Bedanya, motor Moto2 memiliki keunggulan saat berakselerasi selepas tikungan. Berkat power band yang luas dan ban yang lebih lebar, ya kan sedimensi dengan motor superbike, kamu bisa mengendalikan traksi di roda belakang dengan grip gas sehingga bisa berakselerasi dengan lebih efisien."

Rolfo menambahkan, " Perubahan titik berat dalam setiap manuver terasa minimal, motor tetap netral dan stabil. Hanya saja, saya merasa setting gear boxnya mesti diperbaiki. Nantinya kami boleh mengubah-ubah sproket belakang, tetapi tidak gear rationya. Dengan mesin identis dan banyaknya persamaan di motor, maka lap time pembalap satu dengan lainnya akan sangat tipis. Balapan bakal lebih seru dibandingkan kelas 250 cc!" Hmmm.. Lebih seru dibandingkan 250 cc, wah tontonan bagus buat kita nih....




Sumber: PS Das Sport-Motorrad Magazine November 2009
Foto: www.motogp.com

Bicara Moto2 (2)

Lanjut Laeee... Nah yang menjadi klien Kalex kan katanya masih rahasia tuh, tetapi ternyata bukan tim asal Jerman sendiri! Dua orang tim asal Jerman, yakni timnya Dirk Heidolf yang mempekerjakan juara 2 kali Supersport Jerman, Arne Tode, dan tim balap milik dua bersaudara yakni Stefan dan Jochen Kiefer dengan pembalap Stefan Bradl, memilih untuk menggunakan motor produksi Eskil Suter, sang builder tenar asal Swiss. Wah, sesama Jerman kok terkesan kurang mempercayai ya... Ya sebenarnya wajar saja, kan Kalex belum membuktikan ketajaman taringnya di dunia balap, berbeda dengan motor SRT MMX karya Suter yang rangka alumuniumnya diproduksi dengan sistem tekuk menekuk, bukan sistem bubut layaknya di Kalex. Menurut Jochen Kiefer, rangka model begini bakal lebih mudah direparasi kalau terjatuh.

Bukan cuma itu sebenarnya Bro, Suter jauh lebih kaya pengalaman! Suter dan adiknya, Simon, sudah mendirikan firma teknologi di kampung halamannya di Turbenthal sejak lama. Pada tahun 1999, kesuksesan mereka pun sudah terbukti ketika Jürgen van den Goorbergh mengendarai MuZ 500 yang rangkanya diproduksi Suter. Pembalap Belanda ini berhasil menduduki 2 kali pole position di Brno dan di Barcelona! Bayangkan, mengasapi motor-motor GP500 Jepang yang terbukti tidak tertandingi pabrikan Eropa sejak lama! Tidak berhenti di situ, Suter juga yang mengembangkan rangka untuk ZX-RR dan Ilmor! Artinya, mereka paham betul apa-apa yang dibutuhkan untuk memproduksi rangka yang paling yahud untuk menaklukkan sirkuit-sirkuit yang menggelar MotoGP! Nah, dengan pengalaman setumpuk, siapa yang tidak tertarik menggunakan jasa Suter? Apalagi mereka menawarkan paket motor komplet SRT MMX hanya 76000 Euro, jauh lebih murah dibandingkan Kalex yang pasang 135000 Euro dan Aprilia yang 208000 Euro!

Kedua klien asal Jerman sudah sangat teryakinkan dengan penampilan luar SRT MMX yang merupakan pengembangan dari Laglisse. Konsep fairing, air intake dan lengan ayun SRT MMX sudah merupakan pengembangan sarat teknologi MotoGP. Laglisse yang menggunakan mesin R6 ini adalah hasil kerjasama Suter dengan seorang Spanyol, yakni Jaime Fernandez Avilles. Hanya saja, saat Suter mengembangkan Laglisse menggunakan mesin Honda, Avilles merasa dilangkahi! Saat ini sih mereka berdua sudah kembali akur. Suter meneruskan lagi proyek Laglisse dan memperbaikinya. Motor itu kini dinamai Suter 046 yang akan dijual untuk proyek-proyek kejurnas.

BTW, kabarnya di kawasan Sunter, ada bengkel yang menyaingi kreativitas Om Suter! Bengkel itu menamai motornya Surti 046. Kabarnya Surti 046 berhasil mempecundangi motor-motor korekan yang berlaga di seputaran Kemayoran! Pemirsa, sebaiknya kita hentikan dulu artikel ini sampai disi saja sebelum kita terlalu jauh tersesat........


Sumber: PS Das Sport-Motorrad Magazine November 2009
Foto: www.suterracing.com

Bicara Moto2 (1)

Banyak yang mempertanyakan, seperti apa kelas Moto2 nanti yang akan mewarnai MotoGP dengan nuansa baru. Oleh karena itu, kita mulai saja marathon kita mengenali kelas baru ini.
Jika banyak yang menyayangkan, karena balap Moto2 hanya akan disuplai mesin dari satu pabrikan saja, yakni Honda, sebenarnya hanya fanatik merk saja, bukan fanatik terhadap balap motor itu sendiri. Suplier tunggal ini sebenarnya dimaksudkan untuk menghemat biaya yang dikeluarkan tim-tim balap dan memberi peluang kepada tim-tim baru untuk dapat menjegal dominasi tim-tim besar di kelas 250 cc. Toh kalau dipikir-pikir, kelas 250 cc pun isinya hanya tinggal dominasi Aprilia toh, terlepas Aoyama yang berhasil membawa Honda kembali menjadi motor juara dunia tahun ini. Bukankah Honda sudah berhenti benar-benar menekuni kelas ini sejak almarhum Daijiro Katoh naik ke GP500? KTM pun sudah keluar sejak tahun lalu, sedangkan Gilera dan Derbi pun sebenarnya Aprilia-Aprilia juga... Jadi di Moto2 sebenarnya bukan masalah besar dengan adanya suplier mesin tunggal!

Moto2 memang sejak awalnya dirancang sehemat mungkin untuk dapat membuat balapan tetap meriah dan tidak didominasi tim tajir semata. Rem karbon yang mahal dilarang keras disini, cukup dari bahan stainless steel. Mesin pun tidak perlu diutak-atik lagi, haram hukumnya! Di sisi ban pun, Dunlop menjadi suplier tunggal, artinya tim tidak perlu terlalu banyak pengeluaran untuk mengembangkan mesin dan kompetisipun terjamin, karena semua tim mendapatkan ban yang sama!
Meskipun dirancang irit, para praktisi balap memikirkan juga, bagaimana mesin ini nantinya tidak sama dengan mesin Supersport dan bisa mempecundangi mesin 2 tak 250 cc. Mesin 4 tak Honda nanti akan sangat mirip dengan mesin CBR600RR yang berkonstruksi 4 silinder sejajar. Bedanya, mesin ini tentunya akan di tune up supaya lebih yahud. Tugas ini diambil alih oleh sebuah firma di Swiss bernama Geo Technologi, tempat berkaryanya suhu korek mobil F1 Honda, Osamu Goto. Belum ada yang bisa memastikan, seberapa besar tenaga mesin itu nantinya. Ada yang bilang 150 PS, tetapi akibat terbatasnya waktu, mesin diperkirakan akan bertenaga 140 PS saja. Bukannya sulit untuk meraih tenaga besar dari mesin Supersport, tetapi mesin itu harus punya daya tahan hingga 1500 Km atau hingga 3 race. Setelah menjalani 3 race, mesin itu akan dikirim kembali ke Swiss untuk direkondisi.

Moto2 nantinya tidak akan berbeda jauh dengan MotoGP. Meskipun tenaganya jauh lebih kecil, para konstruzktor yang telah menguji coba motor mereka dengan mesin Supersport umum sepakat, motor Moto2 akan mempecundangi motor 2 tak, minimal sekitar 1 detik per lap! Motor-motor ini berbeda dengan motor-motor Supersport, sebab rangka prototyp hanya dikembangkan untuk balap. Rangka ini jauh lebih kaku dan memungkinkan handling sepresisi motor-motor MotoGP, tajam dan stabil mengikuti racing line dan dapat berakselerasi dengan efisien selepas tikungan.

Dibukanya kelas Moto2 mendapatkan sambutan extra meriah dari para builder dan jago-jago pengembangan rangka. Moto2 seakan menjadi jalan pintas untuk menjadikan mereka selebriti di jagad balap motor. Tidak heran, ketika pendaftaran dibuka, langsung ada 97 peserta yang mengajukan proposal. Akhirnya, hanya 25 tim dan total 39 pembalap saja yang direstui untuk dapat mengikuti Moto2. Kebanyakan dari mereka sebenarnya tim-tim yang sudah berlaga di kelas 250 cc, hanya saja, kini mereka mempunyai partner-partner baru untuk mengembangkan motor secara keseluruhan (hanya minus mesin). Sebut saja si motor hitam di atas, si Laglisse. Laglisse dikembangkan oleh Eskil Suter dan Jaime Fernandez dengan menggunakan mesin R6. Laglisse pun ditest Roberto Rolfo dan sudah mengikuti kejuaraan nasional di Spanyol dengan sukses. Nah, nantinya kalau mau turun di Moto2, mesin R6 tinggal diganti saja dengan mesinnya Honda Bro.... Jadi, saat mesin Honda dibagi-bagikan bulan Maret 2010 nanti, tim-tim tidak perlu waktu lama untuk mensetting motornya.
Buat para penggemar Aprilia, tidak perlu gusar! Aprilia masih akan turun di kelas ini. Bahkan dengan pengalaman dan kesuksesan mereka di kelas 250 cc dan di WSBK dengan RSV4nya, Aprilia mendapatkan status sebagai favorit di kelas Moto2. Namun, namanya favorit, jual mahal doooong.. Kepada tim-tim yang ingin menggunakan motornya, Aprilia minta jatah 208000 Euro saja! Bandingkan dengan Desmosedici yang dilego 61500 Euro! Bagaimana jadinya kalau ada pembalap nantinya sok aksi dan malah bikin motor hancur layaknya si Bautista yang mau 12 O'clock tapi gagal total??? Tenang...tenang, Aprilia memang yang paling mahal... Namun, nama Aprilia dan pengalaman mereka menjadikan mereka paling dianggap berpeluang besar menelurkan motor juara. Tidak heran, Karel Abraham sang orang Ceko tajir melintir akibat usahanya di bidang biofarmasi langsung order motor Aprilia untuk memuluskan jalan anaknya, yang juga diberi nama Karel Abraham!
Masih ingat Kalex AV1 yang pernah kita bahas kan?. Firma Kalex Engineering asal Bobingen pada musim panas lalu menghampiri tim-tim balap 250 cc dan memperlihatkan rancangan motor Moto2 mereka. Kebanyakan saat itu malah mengerenyitkan dahi, bukannya menyambut dengan antusias. Maklum, Kalex kan hanya firma baru dan masih kecil, tidak ada apa-apanya dibandingkan Aprilia. Kalex menawarkan rangka yang memungkinkan penempatan mesin yang bervariasi, bahkan dibilang "tanpa batas". Berbeda dengan tim-tim lain yang memproduksi rangka alumunium dengan cara ditekuk-tekuk dan di las, Kalex memproduksi rangka mereka dengan sistem bubut, ya pada akhirnya dilas juga lah... Harga motor Kalex juga tidak bisa dibilang murah, 135000 Euro Bro! Bisa beli 2 unit Desmosedici tuh! Meskipun terbilang anak bau kencur, Kalex berhasil mendapatkan klien yang memesan 4 unit motor untuk 2 orang pembalap mereka. Siapakah kliennya??? Masih rahasia katanya... Sang klien berhasil diyakinkan setelah mengunjungi tempat kerja Kalex. Kalex yang dimotori dua orang tukang insinyur yang gemar motor, yakni Alex Baumgärtel dan Klaus Hirsekorn tidak hanya memiliki kemampuan kerja dan presisi super canggih, mereka pun kini sudah pindah ke lahan milik firma Holzer yang bekerjasama dengan Performance GmbH yang sejak bertahun-tahun mengembangkan chassis Opel untuk kejuaraan DTM, artinya Kalex diperkuat 120 orang pekerja dengan fasilitas extra lengkap dan canggih untuk mengerjakan segala sesuatunya, mulai dari membubut, mengukur-ngukur, mengelas hingga mengetes. Dan semua itu bisa dikerjakan dalam tempo sangat cepat!

Sumber: PS Das Sport-Motorrad Magazine November 2009
Foto:
www.kalex-moto2.com
http://bottpower.com/eng/

Senin, 02 November 2009

Investasi Yamaha di MotoGP



Langkah Yamaha memasukkan Ben Spies ke MotoGP termasuk langkah yang bisa dinilai dari berbagai sudut pandang. Bisa jadi kita menangkap kesan, kalau Yamaha terlalu habis-habisan di MotoGP dan malah mengendurkan gas di WSBK.

Apakah ini langkah yang tepat, mengingat motor-motor yang bisa dimiliki umum adalah motor yang berlaga di WSBK, bukannya di MotoGP? Atau Yamaha ingin membuktikan, bahwa R1 bisa juga menjadi juara, walaupun yang menunggangi bukan Spies? Bisa saja demikian, sebab Ben Spies yang banyak menghafal sirkuit karena rajin main Play Station bareng bocah ini sudah dianggap sebagai pembalap fenomenal. Aksinya tahun ini bisa membuat pembalap-pembalap lainnya terlihat amatiran! Jadi, sepertinya Yamaha punya target baru: R1 hebat bukan karena Spies, tetapi Spies hebat karena R1! Di WSBK sendiri, Yamaha yang terkesan mengendorkan gas, sebenarnya tidak sepenuhnya menutup throttel gas, kan sekarang posisi ini diisi Toseland!

Meskipun Toseland redup sinarnya tahun ini, pengalamannya sebagai mantan juara dunia WSBK dan ketajaman yang diperoleh dari MotoGP tidak bisa dianggap sebelah mata. Di sisi Toseland pun ada Crutchlow yang terbukti bisa membawa R6 mematahkan rekord CBR600RR di WSS! Sayang sebenarnya kalau Yamaha meninggalkan WSS dan mengangkat Crutchlow ke WSBK... Namun, langkah ini sudah diantisipasi dengan karakter R6 2010. Memang masih belum jelas performanya, hanya terlihat knalpot R6 anyar sedikit lebih panjang dibandingkan versi tahun ini. Dari keterangan volume tanki, tersinyalir bahwa Yamaha memodifikasi airbox R6. Intake pun juga tidak lepas dari pembaruan. Dengan mapping baru, Yamaha R6 tahun depan dirancang lebih bertenaga di putaran menengah, hmmm biar lebih bersahabat dengan para pembalap baru kah??? Intinya, semakin mudah motor dikendarai dan semakin bertenaga di putaran menengah, motor semestinya akan lebih berprestasi di lintasan dan juga di segi penjualan. Ingat, motor yang bertenaga di putaran menengah relatif lebih panjang umur!

Kembali ke MotoGP! Apakah Yamaha merasa Rossi dan Lorenzo masih kurang mendominasi tahun ini sehingga mereka memasukkan Ben Spies? Atau Yamaha merasa Rossi dan Lorenzo tahun ini beruntung karena Stoner absen cukup lama dan Honda gagal mengembangkan RC sableng akibat absennya Pedrosa di awal musim? Atau Yamaha takut ditinggalkan Rossi dalam 2 tahun kedepan? Mengingat Rossi disinyalir ingin menunggangi Ducati dan menutup kariernya bersama motor nasional negara yang menyimpan bergudang-gudang bella ragazza ini? Sebenarnya sih tidak perlu kuatir, sepertinya Rossi tidak akan meninggalkan Yamaha sebelum targetnya melampaui rekord Agostini tercapai. Menurut Jeremy Burgess yang merasa dirinya jauh lebih terkenal dibandingkan Jeremy Thomas, target Rossi saat ini ya melampaui rekord itu! Jadi, jika Yamaha sudah terbukti memberikan fasilitas untuk mencapai target itu, ya sudah, Rossi sepertinya tidak akan terlalu ambil banyak risiko pindah ke Ducati.

Nah, kalau takut ditinggal Lorenzo bagaimana? Apalagi Honda mendatangkan Marco Simoncelli dan Hiroshi Aoyama yang menjadi 2 pembalap 250cc terbaik tahun ini. Bisa jadi! Kalau Lorenzo merasa tahun ini kembali diperlakukan sama, bisa jadi dia hengkang. Lorenzo dalam sebuah wawancara mengatakan, yang dia minta bukan gaji yang sama dengan Rossi, tetapi perlakuan yang sama! NAh lo.... Lorenzo sendiri berniat membuktikan pada Yamaha, bahwa dirinya pun juga bisa mengembangkan motor, bukan cuma menungganginya saja! Kalau tahun depan konflik Lorenzo vs Rossi meledak lebih besar, wah bingung tuh Yamaha... Rossi sudah terbukti top dan sangat banyak berjasa bagi Yamaha, tetapi di sisi lain, masa depan ada di Lorenzo sebagai pembalap muda, pilih mana hayoooooooo..... Di sisi lain, kalau target Rossi sudah tercapai, besar kemungkinan Rossi hengkang ke Ducati. Bukan cuma masalah duit disini, tetapi juga keinginan Rossi menutup karir bersama Ducati dan membuktikan dirinya juga bisa menaklukkan Ducati layaknya Stoner, bukan jatuh mental seperti Melandri!

Mungkin karena takut kehilangan jagoan-jagoannya ini, Yamaha memasukkan Spies ke MotoGP... Namun jangan lupa, Spies pun bisa hijrah juga ke tim lain! Toh tawaran duit, motor kompetitif, persaingan sesama pembalap, keadaan di dalam tim dan rumor-rumor yang ditimbulkan media bisa mengubah pikiran dan kehendak seorang pembalap. Nampaknya sekarang Yamaha kesulitan mencari pembalap yang loyal layaknya almarhum Norick Abe....


Sumber: dari.....dari.... dari...... lupa tuh...

Kawasaki Ninja ZX-10R 2010: Minim Jurus?



Seperti sudah tradisi, setiap 2 tahun pabrikan Jepang merombak lumayan besar jagoan mereka untuk berlaga di WSBK. Dan tahun ini, si Ninja seharusnya menunjukkan kesaktiannya yang diperoleh dalam 2 tahun terakhir. Tidak seperti biasanya, kali ini Kawasaki hanya sedikit memberi jurus baru pada sang Ninja.

Jurus pertama yang paling mudah dilihat adalah striping baru! Wooooooooowww... eh, bisa tambah kenceng ga ya dengan striping baru? Yah minimal bisa lebih memancing minat calon korban si Ninja lah, tambah sporty gitu lho...boleh nih buat Bro di tanah air yang merasa cat hijau polos Ninjanya kurang "nendang". Sebenarnya bukan cuma itu kok, bagian fairing depan ZX-10R juga dirombak, jadi lebih singset deh... Knalpot single yang terlihat terlalu besar pun ikutan diet, knalpot si Ninja kali ini dibuat lebih singset dan lebih simple. Dengan cat metalik gelap, kesan singset dan aerodinamis yang ditimbulkan knalpot baru ini semakin mencuat.

Di segi mesin, Kawasaki merasa tenaga Ninja sudah cukup, sehingga tetap dengan mesin lamanya yang bertenaga 188 PS, toh hanya S1000RR standard yang tenaganya lebih kuli dibandingkan Ninja! Untuk lebih memudahkan bikers, Kawasaki memperbaiki sistem pemindahan giginya, sehingga perpindahan gigi bisa lebih josssssss. Untuk mereka yang doyan balap, handling pun diperbaiki dengan memberikan stabilizer setang Öhlins baru di cockpit si Ninja. Selain itu, Kawasaki masih memberikan jurus lain, yakni...yakni...yakni... eh..habis jurus barunya hihihihi.... Ya, namanya juga masih krisis Bro, faktor harga dan biaya produksi harus sangat diperhitungkan disini.

Lah, terus bagaimana nasib Ninja di WSBK? Masihkah harus jadi yang paling memalukan? Masa masuk 10 besar saja sudah habis-habisan? Masa bertekuk lutut di tangan si picek yang baru brojol tahun ini? Untuk mengatasi permasalahan ini, tampaknya Kawasaki harus berharap banyak pada Chris Vermeulen. Pembalap Australia yang di Assen punya banyak penggemar ini (maklum, keturunan Londo) diharapkan bisa menggali potensi ZX-10R di WSBK dan bisa mengembangkan si Ninja. Ya..siapa tahu tahun 2011 nanti keluar Ninja bertulang dan berotot ZX-RR. Untuk bisa merangsek ke barisan depan tahun 2010 memang masih sulit, melihat bahan dasar ZX-10R yang minim jurus baru. Terlebih kalau Vermeulen kurang motivasi dalam balap motor dan lebih senang membicarakan dan mikirin mobil hotrodnya terus-menerus! Kita lihat saja nanti kiprahnya ZX-10R dan Vermeulen, yang penting ZX-10R 2010 catnya kereeeeeeenn... naksir euy..sayang ijk ga punya Ninja huhuhu....

Ducati Hypermotard 796: "Ekonomis"



Buat Bro yang ngebet bisa gebet Ducati, apalagi Ducati Hypermotard, ada kabar bagus untuk tahun 2010 nanti. Ducati menjadi sedikit "rendah hati" dengan meluncurkan Ducati Hypermotard 796, versi mini dan hematnya Ducati Hypermotard 1100.

Langkah Ducati yang sedikit menurunkan gengsinya dengan memproduksi motor "ekonomis" berkapasitas lebih kecil ini bisa dibilang cerdas, sebab Hypermotard mini ini bisa dilego lebih murah sekitar 2300 Euro dibandingkan abangnya. Artinya, nantinya 796 bisa digebet dengan budget dibawah 9000 Euro dan bisa join dengan harga Monster 696 yang juga diperuntukkan bagi mereka yang ingin memiliki Ducati, tetapi berpenghasilan "sedang-sedang saja".

Soal dimensi, tidak perlu takut untuk menggebet Ducati yang satu ini. Abangnya saja kecil dang singset kok, nah yang ini tinggi joknya lebih enak lagi untuk ukuran rata-rata orang Indonesia, sebab 2 cm lebih pendek dibandingkan abangnya yang memiliki tinggi jok 85 cm. Soal mesin, tenaga puncak 81 PS cukup lah.... Trik Ducati ini sebenarnya cukup sederhana, tetapi bisa secara signifikan memperbesar jaring penjualan mereka untuk lebih mampu menjaring "ikan-ikan" di pasar. Disamping harga yang "ekonomis", mesin berkapasitas kecil tentunya diharapkan lebih irit konsumsi bensin sehingga lebih dilirik mereka-mereka yang ingin menggunakan motor ini sebagai kendaraan harian.

Mesin 796 pun bukan barang baru, hanya mendayagunakan yang sudah ada saja. Ducati mencangkokkan kruk as Monster 696 yang strokenya diperpanjang, piston dan kop-silinder si monster berkapasitas kecil ini. Peranti selip kopling pun sudah dapat dinikmati di 796, artinya geal-geol di roda belakang akibat engine brake bukan masalah bagi Hypermotard "ekonomis" ini. Hmmm andai saja keluar yang 249 atau 246, mungkin kabarnya jauh lebih bagus lagi. Siapa tahu kan bisa saingan dengan KLX 250 hehe...